Aku langsung bangkit dari sofa dengan gusar, kepanikan membuat jemariku gemetar hebat. "Saya harus pulang ke rumah, Mas..."Mas Jefri bergegas menghampiriku, ia mencoba merangkul bahuku untuk memberi ketenangan yang sangat kubutuhkan. "Erika, tenanglah. Tarik napas dulu..." Aku menggeleng, pandanganku menyapu segala arah dengan gelisah, napasku memburu. Pikiranku dipenuhi bayangan Mama yang sedang menangis atau mengamuk di rumah.Mas Jefri menangkup kedua pipiku dengan lembut namun tegas, memaksa mataku untuk menatapnya. "Mama kamu sudah tahu semuanya?"Aku hanya bisa mengangguk lemah, air mata mulai menetes membasahi pipi."Apa beliau sangat marah kepada saya?" tanyanya lagi dengan suara rendah.Aku kembali mengangguk, isak tangisku kian pecah. "Mama mau membatalkan pernikahan kita, Mas..."Mas Jefri langsung mendekapku erat, mengusap punggungku dengan gerakan menenangkan. "Kita akan tetap menikah, Sayang. Jangan panik. Saya akan temani kamu pulang sekarang juga."Seketika aku melep
Read more