Mas... itu hanya komentar penggemar fanatik. Tidak perlu ditanggapi serius," bujukku lembut, mencoba meraih lengannya.Tanpa merespons sepatah kata pun, Mas Jefri meletakkan ponselku dengan gerakan kaku, lalu turun dari ranjang. Ia menyambar piyamanya di sofa, memakainya dengan terburu-buru, dan melangkah menuju balkon.Punggungnya yang tegap tampak tegang, menyiratkan amarah yang berusaha ia redam sekuat tenaga.Dari balik pintu kaca, aku bisa melihatnya menyalakan rokok. Ia menatap kosong ke arah jalanan kota yang sibuk, membiarkan asap rokok mengepul di udara pagi itu."Duh... cemburunya sudah sampai ke ubun-ubun. Apa aku harus merayunya ya?" pikirku bimbang.Setelah menarik napas panjang, aku menyeret tubuhku ke tepi ranjang, memakai kembali piyamaku, lalu perlahan melangkah menuju balkon.Aku memeluk tubuhnya dari belakang, menyandarkan pipiku pada punggungnya yang hangat."Sayang..." bisikku manja. "Jangan marah, dong. Besok kan kita sudah mau menikah. Masak pengantin wajahnya d
Read more