Aku langsung membuang muka, berusaha menepis pikiran gila yang melintas di benak. 'Tidak mungkin. Dunia tidak sesempit ini. Mana mungkin ilustrator jenius itu adalah Steafen yang playboy kelas teri ini,' bisikku dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri.Dengan wajah yang masih diliputi kebingungan, Steafen melajukan mobilnya menembus jalanan London menuju bandara. Sesampainya di sana, ia mengurus segalanya dengan efisien. Ia menyerahkan tiket pesawat ke tanganku tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu berbalik hendak pergi begitu saja."Tunggu!" panggilku spontan.Langkah Steafen seketika terhenti. Ia menoleh dengan wajah datar yang jarang ia tunjukkan. Aku berdeham pelan, merasa agak canggung. "Beri aku nomor rekening atau barcode-mu. Aku akan mentransfer biaya rumah sakit, tiket, dan juga... ganti rugi karena kamu sudah menjagaku."Steafen membalikkan badan sepenuhnya, menatapku dengan satu alis terangkat. Ia melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan tangan
Last Updated : 2026-01-07 Read more