Rafka duduk di tepi bangku kayu, punggungnya menempel dinding yang lembap. Cahaya lampu minyak menipis, bergetar setiap kali angin menyelinap lewat celah. Ia tidak menghitung waktu. Ia membiarkannya lewat, karena waktu yang dihitung terasa seperti dituntut.Sejak keluar dari lorong sempit itu, dunia terasa lebih berat,Kesunyian yang rapi,jenis sunyi yang membuat orang bertanya apakah mereka masih dibutuhkan.Rafka menatap telapak tangannya,bersih,terlalu bersih untuk seseorang yang baru saja berjalan di balik dinding. Ia mengusapnya ke kain mantel, seolah ingin meninggalkan noda yang tak ada.Langkah-langkah di luar berhenti, lalu berlalu. Ia mengenali ritmenya. Bukan langkah yang ia tunggu. Bukan langkah yang ia takutkan. Ketika dua-duanya absen, dada terasa kosong.Ia menyadari sesuatu yang tidak ia akui sebelumnya: selama ini, ia hidup dengan membaca tekanan. Sel, lorong, pengawasan, semua memberinya arah. Kini, tekanan itu mengendur. Dan tanpa
Last Updated : 2026-03-07 Read more