Audina tidak pergi jauh. Ia berhenti di koridor dengan pilar-pilar tinggi, tempat cahaya senja membentuk garis panjang di lantai batu. Di sana, langkah orang jarang berhenti; terlalu terbuka untuk rahasia, terlalu sepi untuk percakapan. Audina menunggu sampai detak jantungnya kembali rata karena keputusan.Setia, pikirnya, bukan berarti berdiri di depan perisai. Setia adalah tahu kapan harus tidak terlihat.Ia menuruni tangga servis, menukar lorong terang dengan jalur sempit yang akrab. Para pelayan mengenalnya,sebagai pembawa ritme. Ia membantu tanpa diminta, bertanya tanpa menuntut jawaban. Di istana, orang seperti itu sering luput dari catatan.Di dapur bawah, ia mendengar potongan kalimat: “rotasi tertunda,” “ruang observasi,” “penahanan terlihat.” Audina tidak mengulang apa pun. Ia hanya menyusun,siapa yang bicara, siapa yang diam, dan siapa yang terlalu cepat menutup topik. karena kesetiaan memerlukan ingatan yang rapi.Menjelang malam, ia k
Last Updated : 2026-02-17 Read more