Cristian tidak berada di aula latihan pagi itu. Keputusan kecil, nyaris tak terlihat, namun ia mengubah cara beberapa mata mencari. Pedang- pedang berderet rapi di rak, satu tempat kosong di sudut,bukan karena diambil, melainkan karena sengaja tidak dipajang. Cristian memilih ruang senyap di bawah menara lama, tempat batu-batu menyimpan gema yang enggan bocor.Ia duduk di bangku kayu, membuka sarung pedang perlahan. Baja itu bersih, terawat, namun bukan kilau yang ia periksa. Ia mengamati gagangnya bekas aus yang pas dengan telapak tangannya. Pedang yang terlalu sering terlihat akan segera ditantang. Pedang yang hilang dari pandangan, pikirnya, justru mengundang perhitungan.Langkah kaki berhenti di ambang. Tidak masuk.“Putri Ellisha sudah kembali ke paviliunnya,” kata suara itu, rendah.Cristian tidak mengangkat kepala. “Dan?”“Tidak ada pengiring. Tidak ada kegaduhan.”“Bagus,” jawabnya singkat. Ia menutup sarung pedang, menggesern
Last Updated : 2026-02-20 Read more