Malam itu, saat seluruh penghuni Mansion sudah terlelap dalam buaian mimpi, ada sebuah bayangan kecil setinggi lutut orang dewasa yang melompat ringan ke atas atap tertinggi Mansion. Itu adalah Thanzi, bocah berusia empat tahun yang di siang hari hanya tahu cara merengek minta makan dan digendong, tetapi kini ia berdiri dengan tatapan sedingin es. Rambut peraknya yang di sinari cahaya bulan berkilau tertiup angin malam. Ia menatap ke kegelapan di luar tembok mansion, di mana ia tahu betul kalau setidaknya ada selusin mata-mata yang bersembunyi di balik bayang-bayang pohon. "Di kehidupan lalu, kalian menyelinap masuk dan merusak segalanya," bisik Thanzi. "Tapi kali ini, jangankan masuk, melihat debu di halaman ini pun kalian tidak akan bisa." Thanzi merentangkan kedua tangan mungilnya. Tanpa suara, tanpa getaran energi yang bisa dideteksi oleh sensor paling sensitif sekalipun, ia menarik esensi Energi Kekosongan dari inti jiwanya. Jari-jarinya menari di udara, menganyam hukum rua
Read more