Malam di Ibu Kota Kerajaan Angin, pemandangannya bagaikan samudra cahaya yang terbuat dari lampion, namun bagi Wo Long, kota ini hanyalah labirin kepalsuan di balik keindahannya. Dengan kemampuan barunya sebagai Utusan Sang Pencipta, tubuhnya kini tidak lagi terikat oleh batasan fisik yang kaku. Ia bahkan berani bergerak menembus barisan penjaga Paviliun Aliran Surgawi tanpa menimbulkan suara, tanpa jejak, dan bahkan tanpa menggetarkan udara. Di balkon lantai atas, Yue Chan berdiri menyendiri. Rembulan menyinari wajahnya yang tampak bimbang. Di tangannya, ia meremas selendang sutra biru pemberian Pangeran Mahkota Kaelus. Aroma cendana dari selendang itu seharusnya menenangkan, namun instingnya tiba-tiba merasakan kegelisahan. "Jangan biarkan tipuannya itu membutakan dirimu, Nona Yue Chan," suara itu muncul tepat di samping telinganya. Yue Chan tersentak hebat. Ia menarik pedang Embun Surgawi miliknya dan berputar dengan kecepatan kilat, ujung pedangnya berhenti hanya beberapa mi
Read more