تسجيل الدخولGemuruh sorak-sorai di Arena Sembilan Awan tadi siang seolah-olah masih menyisakan gema yang menghantui setiap sudut jalanan. Kemenangan mutlak Sekte Ilusi atas Sekte Harimau Emas bukan hanya sekadar kejutan, tapi itu adalah sebuah anomali sejarah. Teknik Ilusi yang dianggap telah musnah bersama runtuhnya peradaban kuno, kini muncul kembali di tangan sekelompok anak muda dari sekte kecil yang tidak di ketahui. Di dalam Istana Zamrud, kediaman resmi Raja Kerajaan Angin, lampu-lampu kristal bertenaga kristal mana bersinar terang, namun suasana di dalamnya terasa sangat dingin. Sang Raja, seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah kebesaran yang berat, duduk di singgasananya dengan kegelisahan yang nyata terlihat dari matanya. Beberapa waktu lalu ia baru saja menerima laporan intelijen yang mengonfirmasi sesuatu yang menakutkan. "Pangeran Mahkota dari Kekaisaran Pedang ada di kerajaan ini, dan tepat sekali berada di sebuah penginapan dekat kompetisi... dan dia sela
Di sebuah paviliun peristirahatan yang megah, Pangeran Mahkota Kaelus berdiri tegak di balkon yang menghadap ke arah penginapan-penginapan yang menurutnya kumuh, tempat dimana para peserta kompetisi tinggal. Tangannya memutar-mutar cangkir perak berisi anggur, namun matanya menatap dingin, setajam pedang yang tergantung di pinggangnya. Pikiran Kaelus terus tertuju pada satu orang, orang yang berani menatapnya secara terang-terangan. "Sejak awal aku merasa ada yang salah dengannya," gumam Kaelus pada dirinya sendiri. "Orang itu sering menatapku secara terang-terangan tanpa rasa takut. Tatapan itu seperti tatapan seorang predator yang sedang mengintai mangsanya. Dan auranya... bagaimana mungkin seseorang bisa secara tiba-tiba benar-benar menjadi tidak terlihat memiliki energi Qi sama sekali, padahal saat awal orang itu datang ke arena dia masih memancarkan auranya sebagai seorang kultivator di ranah Langit?" Bagi Kaelus, fenomena "tanpa energi" itu justru jauh lebih menakutkan
Malam di Ibu Kota Kerajaan Angin, pemandangannya bagaikan samudra cahaya yang terbuat dari lampion, namun bagi Wo Long, kota ini hanyalah labirin kepalsuan di balik keindahannya. Dengan kemampuan barunya sebagai Utusan Sang Pencipta, tubuhnya kini tidak lagi terikat oleh batasan fisik yang kaku. Ia bahkan berani bergerak menembus barisan penjaga Paviliun Aliran Surgawi tanpa menimbulkan suara, tanpa jejak, dan bahkan tanpa menggetarkan udara. Di balkon lantai atas, Yue Chan berdiri menyendiri. Rembulan menyinari wajahnya yang tampak bimbang. Di tangannya, ia meremas selendang sutra biru pemberian Pangeran Mahkota Kaelus. Aroma cendana dari selendang itu seharusnya menenangkan, namun instingnya tiba-tiba merasakan kegelisahan. "Jangan biarkan tipuannya itu membutakan dirimu, Nona Yue Chan," suara itu muncul tepat di samping telinganya. Yue Chan tersentak hebat. Ia menarik pedang Embun Surgawi miliknya dan berputar dengan kecepatan kilat, ujung pedangnya berhenti hanya beberapa mi
Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Angin perlahan-lahan mulai menjernih, namun sisa-sisa fenomena langit tadi masih meninggalkan ingatan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya. Di dalam Arena Sembilan Awan, suasana yang biasanya riuh dengan sorakan kini berganti menjadi bisik-bisik penuh kecemasan. Para bangsawan dan pemimpin sekte besar yang duduk di tribun kehormatan tampak gelisah, mereka telah mengirimkan orang kepercayaan masing-masing, pelacak terbaik mereka untuk mencari sumber asal fenomen tersebut, namun hasilnya nihil. Tetapi mereka malah kembali dengan wajah pucat, melaporkan bahwa fenomena tersebut lenyap tanpa di ketahui penyebabnya, seolah-olah fenomena itu telah di sembunyikan oleh bumi. Meskipun orang-orang masih diselimuti oleh rasa penasaran dan mencekam, para panitia kompetisi memutuskan untuk tetap melanjutkan acara demi menjaga martabat kompetisi. Genderang pertarungan kembali dipukul, memecah keheningan yang canggung. "Pertandingan selanjutnya! Perwak
Suara terompet kerajaan yang terbuat dari tanduk monster laut terus bergema, membelah kebisingan di Stadion Sembilan Awan. Matahari tepat berada di atas kepala, memberikan pencahayaan yang sempurna bagi panggung batu yang kini telah ternoda oleh bekas-bekas pertarungan sebelumnya. Sorak-sorai penonton bagaikan ombak yang tak henti-hentinya menghantam tribun. Di tengah arena, kini bagian Si Wuya yang berdiri dengan tenang. Jubah ungu tuanya melambai tertiup angin yang entah mengapa mulai berembus dengan frekuensi yang tidak wajar. Lawannya adalah Raksasa Grog, jawara dari Sekte Gunung Barat, seorang pria dengan tinggi dua meter lebih yang membawa kapak raksasa dengan berat ratusan kilogram. "Sekte Ilusi hanyalah sekte keberuntungan! Pertarungan perwakilan pertama kalian itu hanya beruntung saja. Dan sekarang akan ku perlihatkan bahwa orang-orang dari sekte kecil tidak pantas berada di sini, akan kuhancurkan tulang-tulangmu, bocah!" teriak Grog sambil menghantamkan kapaknya ke
di sudut terjauh bagian bangunan sekte ilusi, terdapat sebuah rumah kayu yang sudah lapuk hampir reyot berdiri dengan sunyi. Dan itu adalah rumah kediaman keluarga Kaelan. Di dalamnya, terdapat seorang wanita tua, ibu dari Kaelan sedang tertidur lelap, dia tidak menyadari bahwa maut sedang merayap masuk ke halaman rumahnya. Muncul enam sosok berpakaian hitam di halaman rumah yang hampir rubuh itu, dan mereka adalah anggota dari faksi rahasia Elder Lin yang bergabung dengan Tetua Chang Min yang selalu menindas keluarga Kaelan. para kultivator itu bergerak dengan kelincahan predator. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, memberi isyarat tangan. "Ingat instruksi Elder Lin," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan angin. "Jangan bunuh wanita penyakitan itu. Karena kita membutuhkan dia hidup-hidup untuk memastikan Kaelan tidak bisa melawan. Jika bocah itu berani bertindak, maka wanita ini akan menjadi taruhannya agar dirinya tidak berani







