"Kamu masih tidak berubah," bisik Donita, yang hanya Gavin dapat melihat. Sudut bibirnya saling tertarik membentuk senyum, senyum sinis lebih tepatnya. "Masih sama seperti dulu. SAMPAH!" lanjut Donita lagi, masih dengan isyarat bibir, namun Gavin bisa memahaminya."Bangsset! Untuk apa kamu ke sini?!" Gavin murka. Tangannya terkepal, seakan siap ia gunakan untuk menghajar wanita di depannya. Walaupun Gavin diajarkan untuk tidak melukai wanita, tapi wanita ini pengecualian dalam kamusnya. Ia bukan wanita bagi Gavin, melainkan iblis yang menyerupai wanita.Lia, istri ketiga sang Kakek, serta seorang lelaki yang sejak tadi duduk mengamati, langsung berdiri saat mendengar suara Gavin yang menggelegar, seakan siap menghajar.Lelaki yang sangat mirip dengan Gavin itu melangkah mendekat, menarik sang ibu ke belakangnya."Jaga mulutmu!" bentaknya, tak kalah nyaring dari Gavin. Gavin langsung meradang. Apalagi orang yang mengukir kenangan buruk—yang membuat Gavin tumbuh menjadi seseorang yang
Read more