Tubuh selalu lebih jujur daripada pikiran.Keira menyadarinya ketika ia berhenti di tengah kalimat saat rapat pagi. Bukan karena lupa, melainkan karena dadanya terasa sesak, seolah napasnya tertahan di tempat yang tidak semestinya. Ia melanjutkan kalimat itu dengan tenang, tapi setelah rapat usai, ia duduk lebih lama dari biasanya.“Kamu pucat,” kata Rina.“Kurang tidur,” jawab Keira singkat.Itu setengah benar.Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang rapuh. Keira tetap datang paling awal, pulang paling akhir. Ia menolak mengakui kelelahan sebagai alasan, seolah berhenti berarti membuka celah yang tidak bisa ditutup kembali.Namun batas tidak bisa dinegosiasikan selamanya.Suatu sore, di tengah penyusunan laporan, pandangannya mengabur sejenak. Tangannya gemetar ringan. Ia memejamkan mata, menghitung napas, menunggu tubuhnya patuh kembali.Rina berdiri di pintu. “Kita hentikan hari ini.”Keira m
Last Updated : 2026-01-05 Read more