Sampai di sini, Jocelyn berhenti sejenak."Lanjutkan!" Emosi Ray hampir tak terkendali. Dia sudah menebak apa yang akan dikatakan Jocelyn, tetapi tetap tidak mau percaya itu kenyataan.Jocelyn berkata, "Dompet itu ... milik Pak Marvin. Di dalamnya ada KTP Pak Marvin, kartu ATM, dan dokumen lainnya!"Brak! Kepala Ray terasa berputar, pandangannya menggelap. Hampir saja dia ambruk ke lantai."Pak Ray, jangan panik dulu," kata Jocelyn. "Laporan DNA belum keluar, jadi belum tentu bisa memastikan jenazah itu adalah Pak Marvin ....""Jenazahnya sekarang ada di mana?" tanya Ray."Saat ini ada di kantor polisi Gunung Umara, forensik sedang melakukan pemeriksaan," jawab Jocelyn.Ray menutup telepon, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Aku keluar sebentar!""Kamu jangan pergi dulu!" teriak Lenny. "Yang kamu bicarakan di telepon tadi, apa ada hubungannya dengan anakku?""Nggak, jangan berpikir macam-macam!" Ray buru-buru membantah."Kamu bohong! Aku dengar semuanya, kamu bilang soal jenazah
อ่านเพิ่มเติม