Orangnya saja hampir mati!Saat ini, pria bertato itu merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Kedua kakinya melemas, lalu dia roboh dengan keras ke lantai, tak diketahui hidup atau mati."Cepat, cepat telepon ambulans," kata Hasri."Nggak perlu," ujar Ryan. "Sekarang kamu telepon Omara."Hasri tertegun. "Hah?""Kubilang telepon Omara, nggak dengar?" bentak Ryan."Oh, oh!" Hasri sudah menyaksikan sendiri kehebatan Ryan. Dia mengangguk cepat, lalu menelepon Omara.Ryan mengambil ponsel Hasri. Dari seberang terdengar suara Omara. "Halo, Hasri, gimana situasinya?""Ini aku, Ryan!" kata Ryan."Hah? Pak Ryan? Kok bisa? Kenapa ponsel Hasri ada di tanganmu?" tanya Omara dengan terkejut.Ryan berkata, "Soal itu nanti saja. Apa Ryu sudah hampir sampai?""Ya!""Bagus," kata Ryan. "Suruh dia lebih cepat lagi, datang untuk bersih-bersih. Ada beberapa orang bikin onar, sudah kupukul cukup parah. Suruh dia bawa mereka ke Rumah Sakit Insani untuk ditangani, sekalian selidiki latar belakang me
Ler mais