"Kamu kira lagi bicara sama siapa?" Septian benar-benar murka. Kapan dia pernah diceramahi seperti itu oleh bocah muda?"Tangkap dia dan patahkan kakinya!" Septian memerintahkan para pengawal di belakangnya."Cukup!" Hanum marah. Wajah cantiknya sedingin es."Masalah ini sampai di sini saja," kata Hanum. "Sudah larut, para tamu juga sudah datang. Kita lanjutkan pesta seperti rencana awal."Istri sudah berbicara. Meskipun hati Septian masih kesal, dia tidak bisa lagi memperpanjangnya."Kembali!" Septian memberi isyarat kepada beberapa pengawal.Hanum mengernyit, lalu berkata, "Suamiku, kamu bawa mereka turun dulu. Aku ganti baju, nanti nyusul."Satu panggilan "suamiku" langsung membuat Septian luluh. Seketika, dia tersenyum lebar seperti bunga mekar, mengangguk berulang kali. "Oke, oke. Nggak usah terburu-buru, pelan-pelan saja."Kemudian, dia membawa para pengawal turun.Hanum bangkit, berjalan ke ruang ganti, berkata kepada Tiana, "Tiana, kirim pesan ke Ryan. Buat janji besok malam ja
Baca selengkapnya