"Dokter Wilsen, tolonglah, coba lihat apa ada cara lain ...." Wanita itu memohon."Aku ini dokter atau kamu yang dokter?" sahut Wilsen dengan tidak sabar. "Sudah kubilang nggak ada cara. Kalau ada cara, apa mungkin nggak kupakai?"Wanita itu ketakutan, tidak berani berbicara lagi. Matanya memerah, tubuhnya membungkuk, terlihat sangat kasihan."Uhuk ... uhuk!" Anak laki-laki itu batuk beberapa kali. Dia perlahan mengusap wajah ibunya, lalu bersandar ke pelukan ibunya. "Bu, aku mau pulang .... Kita pulang ... tunggu Ayah! Huhu ...."Semakin bicara, anak itu semakin menangis. Dia juga ketakutan oleh Wilsen."Wilsen, kenapa bersikap seperti itu pada pasien?" Yanna tidak tahan melihatnya, lalu maju menenangkan anak itu. "Sayang, jangan takut. Kami ini dokter, pasti akan menyembuhkan penyakitmu!"Merasakan kelembutan kakak cantik itu, anak kecil itu berkedip dengan mata besarnya, lalu pelan-pelan menghapus air matanya.Saat itu, Wilsen menuliskan resep, lalu melemparkannya kepada wanita itu
Read more