Angga baru saja menutup telepon dari Kinanti. Senyum Kinanti masih tertinggal di ingatan, hangat, lembut—rindu yang sempat mengerak kini terasa manis. Malam itu Jogja begitu sunyi, tapi dadanya penuh sesuatu yang membuatnya ingin buru-buru pulang. Ia berdiri, meraih jaket, lalu membuka pintu kamar. Pelan-pelan Angga menuruni tangga, memanggil, “Mbok … Mbok Darmi …” Dari arah dapur, terlihat Darmi muncul dengan langkah kecil dan wajah mengantuk. “Lho, Pak Angga? ada apa, Pak? Malam-malam mau kemana pake jaket?” Angga tersenyum kecil. “Aku mau pulang, Mbok. Ke Jakarta, Sekarang. Yono udah tidur belum?" Mbok Darmi langsung tersentak. “Sekarang, Pak? Tengah malam begini?” “Iya, Mbok. Aku kangen Kinanti. Mau kasih kejutan.” Raut muka Darmi mencair sedikit, tapi masih ada rasa khawatir di wajahnya. “Tak bangunin Yono dulu, Pak. Dadakan banget lho, Pak …” Gumam Darmi. “Justru itu, Mbok,” jawab Angga sambil menutup resleting jaket. “Kalau direncanain, jadi nggak kejutan.” Ada tawa
Last Updated : 2025-12-17 Read more