“Sialan!” Bram menggebrak meja hingga gelas di atasnya terguncang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. Di layar ponsel, kabar tentang Angga yang selamat masih terpampang. “Harusnya mati, atau cacat.” gumamnya penuh amarah. Ia meraih jaket, menyampirkannya kasar, lalu keluar tanpa menoleh. Mesin mobil menderu, membawa Bram menuju satu-satunya orang yang masih bisa ia kendalikan. Lisa. Di rumahnya, Lisa duduk di atas sof, tangannya lincah menggonta ganti channel, tak ada firasat apa-apa. Tiba-tiba Ketukan keras di pintu membuat tubuhnya menegang. “Lisa. Buka.” Suara Bram dingin, tanpa pilihan. Lisa membuka pintu perlahan. Bram langsung masuk, menutup pintu dengan satu hentakan. Tatapannya menusuk, senyum tipis terbit—senyum yang selalu membuat Lisa merasa kecil. “Kamu gagal,” kata Lisa lirih, nyaris tak terdengar. Bram tertawa pendek. “Ya aku gagal? jadi aku butuh kamu." Ia mendekat, menurunkan suara. “Dengar baik-baik. Kamu masih punya hutang sama aku.” “Aku su
Last Updated : 2025-12-27 Read more