Share

Kapan Tobatnya.

Author: Azzurra
last update Huling Na-update: 2025-11-13 23:45:16
“Ada apa? Kenapa kamu selalu curiga!!" Suara Angga terdengar tak suka selalu di tuduh.

“Ini ada noda lipstik, Mas?” Hati Kinanti terbakar cemburu. Dulu dia memang tipe wanita pencemburu. Tetapi belakangan rasa cemburunya semakin berlebihan.

Angga melepas kemejanya, melihat kerah yang di tunjuk kinanti, ingatannya kembali pada saat Celina memeluknya. “Oh ini?" Suara Angga melunak "Tak usah salah paham, Ki. Aku tak melakukan apapun. Aku hanya ngobrol biasa dengan Celina, aku tak mau dia salah jalan lagi pergi dengan lelaki tak tepat "

Kinanti bergeming masih menatap dengan penuh tanda tanya. Angga mengulas senyum teduh, tau persis Kinanti masih menaruh curiga. “Kamu cemburu?”

Wajah Kinanti memberengut. Kepalanya mengangguk. Melihat reaksi Kinanti Angga meletakkan telapak tangan di perut Kinanti. Mengelus-elus halus perut yang masih rata. Lalu mengecup pipi wanita ini.

Kinanti mendorong tubuh Angga. Tetapi Angga mendekap tubuh Kinanti, walau berontak wanita ini tak dapat melonggar
Azzurra

Happy reading 🌹

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Di temukan.

    Mobil itu terus melaju, menelan jarak dan waktu. Lisa terkulai di kursinya. Tubuhnya lemas, kepalanya pening, napasnya tersengal. Setiap getaran mobil terasa seperti menghantam sisa kesadarannya. Di balik kelopak matanya yang berat, ia masih mendengar suara Bram—dingin, penuh amarah yang tak lagi terkendali. “Cari tempat sepi,” perintah Bram pada sopirnya. “Sedikit jurang. Jangan ada orang.” Sopir itu ragu sejenak, namun tatapan Bram membuatnya memilih diam. Mobil keluar dari jalur utama, memasuki jalanan yang semakin sunyi. Lampu-lampu kota menghilang, digantikan gelap dan suara angin malam. Lisa tersadar sepenuhnya saat mobil berhenti. Hatinya mencelos. “Bram…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Tolong… aku mohon… jangan lakukan itu.” Tangannya ditarik kasar. Tubuhnya diseret keluar dari mobil. Kakinya hampir tak mampu menopang, namun ia masih hidup—masih sadar—masih berharap. “Bram, aku nggak sal

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Serangan mendadak.

    “Aku tahu kamu mengkhianatiku, Lisa.” Ucapan itu dingin, sebelum tangan Bram melayang. Plak. Kepala Lisa terhentak ke samping. Dunia seketika berputar, dengungan keras memenuhi telinganya. Rasa panas menjalar di pipinya, asin darah terasa di bibirnya yang pecah. “Bram … ampun …” Lisa merintih, suaranya nyaris tak terdengar. Namun Bram seolah tuli. Amarah yang lama terpendam meledak tanpa kendali. Tangannya kembali terangkat, tubuh Lisa terhuyung tak berdaya di kursi mobil. Ia mencoba melindungi wajahnya, tapi Bram terus meluapkan kemarahannya, napasnya memburu, matanya gelap oleh kebencian. “Kamu pikir aku bodoh?” desis Bram. “Kamu pikir aku nggak tahu ke mana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan?” Bram berteriak melampiaskan kemarahannya. Lisa menangis tertahan. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan. Hanya rasa sakit—dan ketakutan yang menyesakkan dada. Mobil itu terus melaju, menelan jeritannya dalam gelap. Lisa hanya bisa pasrah, dia sudah menyerahkan dirinya pad

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kelegaan bercampur Duka.

    Angga dan Gerry saling bertatapan. Ada jeda singkat sebelum Gerry akhirnya bersuara, nada suaranya menahan emosi. “Kenapa dari awal kamu nggak bilang?” tanyanya. “Kalau kamu dan Bram sudah sejauh itu?" Angga tak langsung menjawab. Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang tertiup angin, memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah sana. Dari luar, semuanya tampak normal—berlawanan dengan permainan kotor yang sedang mereka hadapi. “Sebenarnya itu masalah mudah bagi kami,” ujar Angga akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar."Ger, urus ini dengan Tim, IT." Angga berbalik setengah badan menatap Lisa yang masih duduk gelisah. “Kami punya tim IT yang handal. Apa pun yang disimpan Bram—di ponsel, di cloud, di perangkat mana pun—bisa kami lacak.” Lisa yang duduk di seberang meja menegang. Jarinya mencengkeram tas di pangkuannya. Masih belum percaya jika Angga sehebat ini menyelesaikan masalah, kenapa dari awal dia tak datang ke sini. “Semua akan kami

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kecurigaan Kinanti.

    Matahari terasa cerah, bukan hanya karena cahaya yang menembus jendela, tetapi juga karena suasana hati Kinanti. Ia berdiri di hadapan Angga, merapikan dasi di leher suaminya dengan gerakan telaten. Tangan Angga sudah jauh membaik. Gips itu memang telah dilepas, meski lengannya masih ditopang pengait yang melingkar di leher. Namun sorot matanya kembali utuh—tegas dan hidup. “Pak Angga makin tampan saja,” goda Kinanti sambil tersenyum. Angga menunduk sedikit, membalas senyum itu. Kinanti meraih wajah lelaki di hadapannya lalu mengecup bibir Angga singkat. Awalnya hanya sekilas, tapi Angga tak segera melepaskan. Tangannya yang sehat melingkar di pinggang Kinanti, menahan tubuh itu lebih dekat. “Mas …” Kinanti tertawa kecil ketika Angga memperpanjang ciuman. Saat akhirnya Angga melepasnya, Kinanti memukul pelan dada suaminya. “Selalu begitu,” keluhnya manja. Namun Angga justru semakin merapat, membuat Kinanti menggeliat kecil

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kegelisahan

    Setelah Lisa meninggalkan meja makan, suasana ruang makan kembali sunyi. Kinanti masih duduk di kursinya. Tangannya terlipat di atas meja, matanya mengikuti punggung Lisa yang menjauh hingga tak lagi terlihat. Ia tahu—sejak awal Angga tidak benar-benar menginginkan situasi ini. Tapi jangan lah bersikap seperti itu di hadapan Lisa. Ia menoleh ke arah suaminya. “Mas…” Kinanti membuka suara pelan. “Maaf ya kalau kamu jadi nggak nyaman.” Angga diam beberapa detik. Lalu ia menoleh, tatapannya singkat, datar. “Udah malam. Kamu istirahat aja,” katanya. “Aku masih banyak kerjaan.” Ia berdiri, menarik kursinya pelan agar tak menimbulkan suara berisik. Kinanti ikut bangkit. “Mas, kamu marah?” Angga berhenti melangkah, tapi tidak menoleh. “Kalau kamu dari awal nggak mau terima Lisa, bilang aja,” lanjut Kinanti, suaranya mulai bergetar halus. “Jangan begini. Aku jadi nggak enak sama semua orang.”

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Satu Meja Makan.

    Ningsih membuka pintu dan mempersilahkan Lisa masuk dengan senyum sopan. “Silakan masuk, Non. Non Kinanti sebentar lagi turun." Lisa melangkah masuk perlahan. Begitu kakinya menapak lantai rumah itu, matanya langsung berkelana, memindai setiap sudut yang tertangkap pandangan. Ruang tamu yang luas, tata letak yang rapi, pencahayaan alami yang jatuh lembut—semuanya terasa hangat, elegan, dan hidup. Hatinya berdecak kagum. "Keren banget kamu, Ki. Bisa tinggal di rumah kaya begini." Rumah yang selama ini hanya ia dengar dari bayangan Lisa, kini dia berdiri nyata di hadapannya. Bukan sekadar besar atau mewah, tapi terasa penuh—seolah setiap sudutnya menyimpan kebahagiaan yang selama ini asing baginya. Lisa masih terpana ketika sebuah suara lembut memanggil namanya. “Lisa?” Ia tersentak kecil. Menoleh. Kinanti berdiri beberapa langkah darinya, tersenyum hangat seperti biasa. Tak ada raut curiga di wajah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status