“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok Inem berjalan ke meja rias, meraih sisir, lalu kembali menghampiri. Dengan gerakan lembut, ia menyisir rambut Djiwa, merapikannya agar tak lagi kusut akibat insiden tadi. Kamar itu kini sepi. Hanya mereka berdua. Radja, Inggrit, dan Sekar memilih menyelesaikan urusan di luar agar Djiwa bisa beristirahat dengan tenang. “Kepalanya sakit, Non?” tanya Mbok Inem pelan, jemarinya cekatan memijat pelipis Djiwa. “Biar Mbok pijetin, supaya gak pusing.” Djiwa menelan ludah pelan. “Terima kasih ya, Mbok. Tapi Mbok sendiri gimana keadaannya? Pasti sakit, kan, dijambak?” Tangannya terulur hendak memeriksa kepala Mbok Inem, namun cepat-cepat ditahan oleh wanita itu. “Mbok gak apa-apa, Non. Jangan kh
Last Updated : 2026-01-06 Read more