“Selamat makan,” ucap Djiwa malam itu, setelah seluruh hidangan tersaji di meja makan. Meja yang kini terasa penuh, lengkap dengan kehadiran dua bocah kembar laki-laki. “Thank you, Mommy,” ujar Narendra ceria, senyumnya mengembang lebar. “Sama-sama, Nak,” balas Djiwa dengan senyum tulus. “Thank you, Mom,” Regantara menyusul, suaranya lebih tenang namun terdengar sungguh-sungguh. “Sama-sama,” jawab Djiwa lembut, tangannya terangkat mengusap puncak kepala anak sulungnya itu singkat, seolah masih canggung namun rindu. Di ujung meja, Radja mulai menyantap makan malamnya. Ratu duduk manis di pangkuannya, disuapi dengan sabar oleh sang ayah, sesekali tertawa kecil ketika sendok menyentuh bibirnya. Regantara dan Narendra saling pandang, lalu bersamaan melirik ke arah Radja dan Ratu. Pemandangan itu terasa asing—hangat, tapi asing. “Em … Daddy,”
Read more