“Kenapa Mama Anggi jahat, tante?” isak Anggita pecah di dalam pelukan Djiwa malam itu. Tubuh kecilnya gemetar, napasnya tersengal. “Kenapa Mama gak jagain adek?” Djiwa mengeratkan pelukannya. Hatinya ikut nyeri mendengar pertanyaan polos yang terlalu berat untuk anak seusia Anggita. “Mama bukan jahat, sayang,” ucapnya lembut, penuh kehati-hatian. “Mama lagi banyak pikiran. Mama kecapekan, harus kerja sambil jagain adek. Jadi Mama ketiduran, Mama gak tahu kalau adek tersedak susu.” Anggita terisak pelan. “Adek minum susunya sambil tiduran,” lanjut Djiwa pelan, mencoba menjelaskan tanpa menyudutkan. Ia lalu mengendurkan pelukannya, menatap wajah bocah itu dengan senyum hangat. “Sekarang, Anggita berhenti nangis dulu, ya. Tante suapin makannya.” “Tapi Anggi gak laper, tante,” rengek Anggita lirih. “Anggi gak nafsu makan.” “Gak apa-apa, walaupun sedikit,” bujuk Djiwa sabar. “Yang penting perutnya gak kosong. Kalau Anggita sakit, tante sedih.” Ada jeda cukup lama. Anggita menunduk,
Last Updated : 2026-01-15 Read more