LOGIN“Mantan gimana, Mi?” Inggrit mengangkat bahu, nada suaranya terdengar malas. “Gimana Inggrit bisa tahu, kalau orangnya aja belum pernah Inggrit lihat?” “Oh, soal itu …,” Sekar menyahut tenang. “Mami punya fotonya. Anggun sempat ambil gambar kemarin dan langsung kirim ke Mami. Dan Mami cukup yakin, pria ini sangat mirip dengan Anggi.” Sekar membuka tas tangannya yang mahal, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya pada Inggrit. Layar ponsel sudah terbuka pada galeri, menampilkan satu foto seorang pria. Dengan ragu, Inggrit menerima ponsel itu. Dan seketika, wajahnya menegang. Seorang pria berkemeja hitam, lengan digulung hingga siku memamerkan ototnya yang kekar, berdiri dengan sorot mata tajam yang begitu ia kenali. Dante. Darah Inggrit serasa tersedot turun. Namun ekspresi itu hanya bertahan sepersekian detik, cukup singkat untuk ia sembunyikan. “Kamu kenal?” tanya Sekar, menelisik wajah menantunya dengan saksama. “Mantan kamu?” Inggrit segera menggeleng pelan, lalu me
“Keguguran?” gumam Radja dengan nada rendah, lalu tersenyum tipis. “Mana ada keguguran hanya karena berhubungan intim?” “Bisa jadi ada,” Djiwa mendorong wajah Radja yang terlalu dekat, cukup jauh agar ia bisa bernapas normal meski masih mencium aroma mint dari pria itu. Radja mengernyit, jelas tak sepenuhnya setuju dengan jawaban ambigu itu. Namun Djiwa melanjutkan, suaranya menurun dan sedikit ragu. “Gerakan yang terlalu intens bisa bikin janin terguncang.” Ia menggigit bibirnya, pipinya memerah karena malu. “Takutnya rahim aku kontraksi.” Radja terkekeh pelan. “Selama saya tidak kasar, harusnya aman.” “Tapi kan Mas Radja gak pernah pelan-pelan,” balas Djiwa refleks, terlalu jujur. Radja terdiam. Fakta itu sulit dibantah. Ia tak menyangka Djiwa akan menggunakan itu. Ia menghela napas berat, lalu menarik tubuhnya sedikit menjauh. “Saya janji bakal pelan,” ucapnya rendah, nyaris seperti permohonan. “Boleh?” Djiwa menggeleng. “Nggak. Djiwa gak yakin Mas Radja bisa nepatin janji
“Anak Fairish laki-laki, Yun?” tanya Mbah Kinasih pada keponakannya, Sekar Ayunda, yang hari itu datang berkunjung untuk menyampaikan kabar baik. Sekar tersenyum lebar. “Iya, Bi. Akhirnya, setelah hampir lima tahun, ada juga yang memberi keturunan laki-laki dari tiga menantuku. Tapi ya … sebenarnya harapanku cuma dari dua menantu saja.” Anggun, adik kandung Sekar yang ikut duduk di sana, menyunggingkan senyum kecil. “Mbak, Mbak. Tetap saja, ketiganya menantu kamu. Mereka sama-sama mengabdi ke anak-anak kamu. Jangan dibeda-bedain begitu.” Sekar melirik Anggun dengan tatapan sinis. “Suka-suka aku, lah.” “Syukurlah,” ucap Mbah Kinasih tulus, matanya berbinar. “Akhirnya Fairish dan Kaisar akan segera punya anak.” Anggun spontan menutup mulutnya, menahan tawa. “Lho, kok jadi Kaisar, Bi? Fairish itu istrinya Sultan.” “Eh?” Mbah Kinasih tampak terkejut. “Terus … istrinya Kaisar siapa namanya?” “Kalau menantu dianggap gak penting, memang susah diingat, Bi,” sela Sekar dengan na
“Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Kenapa?” “Nggak apa-apa. Djiwa gak mau aja,” jawabnya tanpa ragu. “Hanya tidak mau?” Radja menahan senyum. “Pasti ada alasannya, kan?” Mobil melambat saat mereka hampir tiba di area parkir basement perusahaan. “Gak ada alasan,” potong Djiwa, kali ini nadanya lebih tegas. “Djiwa gak mau. Dan jangan paksa Djiwa, meskipun di dalam perut ini ada anak Mas Radja.” Ia menarik napas, menahan emosi. “Tetep butuh persetujuan Djiwa juga sebagai ibunya kalau mau USG. Tapi jangan pernah maksa, ataupun ngerayu. Gak mempan.” Mobil berhenti. Tanpa menunggu respons, Djiwa langsung membuka pintu dan turun. Langkahnya cepat, seolah tak ingin memberi celah bagi Radja untuk berkata apa pu
“Anggita, kamu tahu, kan?” ucap Radja dengan nada rendah, namun dingin. “Tahun depan kamu masuk SD. Itu artinya kamu sudah bertambah dewasa. Kamu juga punya adik. Jadi tidak usah manja, tidak usah cengeng. Tunjukkan kalau kamu itu kakak.” Kalimat itu jatuh terlalu berat, terlalu keras—untuk anak kecil berusia lima tahun. Meski Anggita bukan anak kandungnya, tapi dia masih terlalu kecil menerima kritikan itu. Djiwa yang berdiri di samping Radja menelan ludah berat. Dadanya tercekat, terkejut dengan respons Radja yang terasa kasar bagi anak sekecil itu. Ia tak tahu, di balik nada dingin itu, ada kekecewaan yang mengendap diam-diam di dada Radja—kekecewaan yang tak pernah ia ucapkan pada siapapun. Tangis Anggita mendadak terhenti. Namun bahunya masih bergetar hebat. Bukan karena ia sudah tenang, melainkan karena ia terpaksa berhenti—karena tak mendapatkan pembelaan dari sosok yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri. “Anggi …,” Djiwa melangkah maju, menjauhkan bocah itu dari Radja. I
Pagi itu, meja makan keluarga Reinard dipenuhi para anggota keluarga yang bersiap menjalani aktivitas masing-masing. Ada yang akan berangkat bekerja, ada pula yang tetap tinggal di rumah. Suasana sarapan berlangsung hening, tanpa percakapan berarti—termasuk dari Sekar. Wanita paruh baya itu memilih diam, karena ia tahu, sekali ia membuka suara, waktu sarapan akan menjadi jauh lebih lama. Namun keheningan itu akhirnya pecah. “Mi.” Fairish membuka suara tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya. Fairish menelan ludah lebih dulu sebelum melanjutkan, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Kemarin … aku sempet mampir ke dokter obgyn setelah urusan kerja aku selesai.” “Oh ya?” Sekar langsung mengangkat kepala. Mata wanita itu membulat, antusias tak disembunyikan. “Terus, gimana hasilnya?” Fairish kembali menelan ludah, kali ini lebih berat. Tangannya mengepal erat, seolah menahan sesuatu di dadanya. Sultan melirik ke samping. Tatapannya jatuh pada tangan Fairish yang gemetar halus,







