MasukHalo ... ini aku, reminder seperti biasa, ya. Vote GEM, komentar dan ulasan, tolong diramaikan, makasih🫰🏻 Ini udah hari senin, siapa tahu kamis depan naik Beranda depan lagi🫶🏻
“Naren, anak kecil gak boleh tahu,” tegur Regan cepat pada adiknya. Naren langsung menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. “Kenapa?” tanyanya polos, rasa penasarannya justru semakin besar. Regan menghela napas pendek, sudah terlalu malas menjelaskan. “Udahlah,” katanya sambil mengangkat dagu menunjuk ke arah gerbang sekolah. “Daddy udah jemput.” Sebuah mobil hitam mewah baru saja memasuki area parkir sekolah. “Yeay … Daddy dateng!” seru Ratu penuh semangat. Binar ikut tersenyum lebar, paper bag berisi oleh-oleh dari Radja masih ia pegang erat. “Ma, ini dari Om Radja,” ucap Binar sambil mengangkat paper bag itu dengan bangga. Fairish tersenyum hangat melihatnya. “Jangan lupa bilang terima kasih sama Om Radja, ya.” “Iya, Ma.” Mobil Radja akhirnya berhenti tepat di depan mobil Fairish. Pintu di kursi kemudi terbuka. Radja keluar dari mobil dengan setelan jas mahal yang membalut tubuh tegapnya. Aura wibawa pria itu langsung terasa bahkan dari jarak beberapa langkah. Ia tersenyu
“Iya, Bu. Jenis kelamin janinnya laki-laki,” ulang dokter obgyn itu dengan nada lembut. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan, matanya masih membeliak karena terkejut. Laki-laki? Artinya anak itu akan menjadi pewaris keluarga Reinard yang sah, baik di mata hukum maupun agama. Ia menelan ludah pelan, lalu mengangguk sambil mengulas senyum kecil yang masih bercampur banyak perasaan. “Terima kasih banyak, Dok.” Ucapnya tulus. “Sama-sama, Bu.” Dokter itu mulai membersihkan gel di perut Djiwa dengan tisu, lalu membantu merapikan kembali pakaian pasiennya. “Saya cetakkan dulu hasil gambarnya.” Djiwa mengangguk singkat. Ketika dokter itu berbalik ke meja komputer, pandangannya beralih pada Radja. Pria itu masih berdiri di tempatnya, menatap layar monitor USG yang menampilkan bayangan kecil calon anak mereka. “Mas ….” panggil Djiwa lirih. Radja menoleh dengan raut wajah datar. “Hm?” “Laki-laki.” Sejenak Radja hanya menatapnya, tanpa komentar apa pun. Ia kemudian mengulurkan tangan m
Radja menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Tatapannya jatuh pada Karin, tajam, dingin, dan sulit dibaca. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, membuat suasana ruangan terasa semakin tegang. “Kamu sibuk?” tanya Radja akhirnya. Karin menggeleng cepat. “Tidak, Mas, silakan duduk.” Radja tidak langsung duduk. Ia justru berjalan pelan mendekati meja Karin. Tatapannya sekilas jatuh pada beberapa berkas pasien di meja itu. “Jadi …,” gumamnya pelan, nadanya terdengar nyaris santai. “Kamu bidan yang membantu persalinan istri saya dulu, saat melahirkan ketiga anak kembar saya?” Karin sedikit mengangguk, meski dadanya mulai terasa tidak nyaman. “Iya, Mas.” Radja tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak terasa hangat. “Menarik,” ujarnya pelan. Karin mulai menelan ludah. Radja kemudian melanjutkan dengan nada yang terdengar nyaris seperti pujian, namun sarat sindiran. “Saya baru tahu, ternyata ada bidan yang tidak memberitahu pasiennya tentang konsekuensi medis yang
Djiwa tersenyum kecil ketika melihat sang suami kembali memasuki kamar, setelah sebelumnya menidurkan putri bungsu mereka. Radja melangkah pelan, namun tetap memancarkan wibawa yang kuat, mendekati ranjang tempat Djiwa duduk bersandar di kepala ranjang dengan sikap tenang. “Anak-anak, hmph—” Ucapan Djiwa terpotong ketika Radja tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir sang istri. Ciuman itu hangat, penuh rindu yang tertahan selama hampir dua minggu. Djiwa membalasnya tanpa ragu. Kedua tangannya terangkat, melingkar di leher Radja, menarik pria itu semakin dekat. Radja kemudian naik ke atas ranjang dengan hati-hati, mengurung tubuh mungil sang istri di bawahnya tanpa melepaskan ciuman itu. Satu tangannya bergerak pelan, menarik tali piyama Djiwa yang terikat longgar. “Mas ….” Djiwa akhirnya memutus ciuman itu. Ia tersenyum kecil sambil menatap wajah suaminya yang begitu dekat. “Kenapa, sayang?” tanya Radja pelan. “Jangan sekarang.” “Kapan?” kedua alis Radja terangk
Ratu bangkit dari kursinya tanpa berpikir panjang dan berlari secepat mungkin. “Daddy!” Radja yang mendengar panggilan itu langsung menoleh. Begitu melihat putri kecilnya berlari ke arahnya, wajah tegas pria itu seketika melunak. Ratu langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. “Daddy …!” suaranya bergetar. Air matanya langsung luruh. Radja sedikit terkejut merasakan bahu kecil itu bergetar di pelukannya. Ia segera membungkuk dan mengangkat tubuh putrinya ke dalam gendongan. “Hey … hey …!” gumamnya lembut sambil mengusap punggung Ratu. “Kenapa nangis begitu?” “Ratu kangen Daddy,” isak gadis kecil itu sambil memeluk leher ayahnya erat. Melihat itu, Regan dan Naren yang masih duduk di meja langsung menoleh. Mata mereka membulat. “Daddy!” seru mereka hampir bersamaan. Keduanya langsung berlari menghampiri. Radja yang masih menggendong Ratu langsung merentangkan satu lengannya, menarik kedua putranya agar mendekat. Regan memeluk pinggang ayahnya dari samping. Sementara Naren l
“Kamu siapa?” tanya Radja dengan suara berat dan tegas. Tatapannya lurus tertuju pada pria muda di hadapannya, nyaris tanpa berkedip. Bagas menelan ludahnya susah payah. Ia sempat melirik wajah Radja, lalu tanpa sadar menoleh ke arah foto keluarga di dinding, sebelum akhirnya kembali menatap pria di hadapannya itu. “A-anda …?” gumamnya gugup. “Saya pemilik rumah ini,” jawab Radja singkat dan tegas. Bagas langsung menundukkan kepalanya. “Halo, Tuan. Saya Bagas, guru les anak kembar,” ujarnya sopan. “Senang bertemu dengan Anda.” Ia sedikit membungkuk. Radja masih menatapnya. Tatapannya menelusuri Bagas dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sosok pria muda itu. “Jadi kamu yang mengajar anak-anak saya,” gumam Radja pelan. Bagas segera mengangguk. “Iya, Tuan.” Pandangan Radja kemudian beralih ke ruang tengah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ketiga anaknya duduk di meja belajar, tampak serius mengerjakan soal hingga tidak menyadari kehadirannya. Sudut bibi
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.







