LOGINHalo ... ini aku, reminder seperti biasa, ya. Vote GEM, komentar dan ulasan, tolong diramaikan, makasih🫰🏻 Ini udah hari senin, siapa tahu kamis depan naik Beranda depan lagi🫶🏻
“Mas …?” Sultan menatap kakaknya dengan raut tak percaya. “Kenapa bisa seperti ini?” Djiwa segera menyela, suaranya lembut namun terburu. “Ceritanya panjang, Mas. Nanti kami jelaskan di rumah.” Sultan mengangguk singkat. “Baik. Mobil kalian sudah menunggu di depan.” “Ratu mau ikut Daddy sama Mommy, ya, Om,” ucap gadis kecil itu pelan. Ia mendekat, lalu menggenggam lengan ayahnya dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. Sultan menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Iya. Om sama Binar nyusul di belakang, ya.” Ia pun berjalan lebih dulu, menggandeng tangan Binar menuju mobil. Sementara itu, Regan dan Naren memilih tetap bersama orang tua mereka. Tak ada percakapan. Hanya langkah pelan dan tatapan penuh tanya. Saat sampai di mobil, sopir dan Arga sigap membantu Radja berpindah dari kursi roda ke kursi penumpang. Ketiga anak itu memperhatikan tanpa berkedip. Ada bingung. Ada takut. Dan ada perasaan asing melihat ayah mereka seperti itu. Ratu segera naik dan duduk di sam
Djiwa merapikan selimut yang menutupi tubuh suaminya. Malam itu, Radja sudah terlelap setelah minum obat. Perlahan, Djiwa naik ke atas brankar, berbaring di sisi kiri sang suami. Tangannya melingkar di pinggang pria itu, memeluknya erat—seolah takut kehilangan lagi. “Cepat sembuh ya, Mas … semoga lusa kita bisa pulang,” bisiknya lirih. Beberapa detik berlalu. Radja yang semula memejamkan mata, perlahan membukanya. Tatapannya lurus ke langit-langit kamar VIP yang sunyi. “Saya … cacat,” gumamnya pelan. Suaranya berat, nyaris tak bernyawa. Djiwa tersentak. Ia langsung mendongak menatap suaminya. “Kamu belum tidur, Mas?” Radja melirik ke arahnya sekilas. “Saya tidak bisa jalan. Kamu tahu itu.” Kalimat itu dingin, penuh tekanan. Djiwa tidak menjauh. Justru ia mengeratkan pelukannya. “Tapi aku bisa,” balasnya tenang. “Kamu punya aku. Dan aku akan jadi kaki kamu.” Radja terdiam. Tatapannya beralih pada wajah istrinya, lama tanpa kata. “Dokter juga bilang kamu bisa pulih,” lanjut Dj
“Tadi waktu Mas Regan sama Mas Naren berangkat sekolah, Ratu sempat telepon Mommy,” ucap gadis kecil itu pelan, duduk di atas ranjang sambil memeluk bonekanya. Regan dan Naren yang baru pulang sekolah saling melirik sekilas. “Terus gimana kabar Mommy di sana? Udah ketemu Daddy?” tanya Naren penasaran, langsung duduk di samping adiknya. Wajah Ratu seketika murung. “Daddy lagi sakit, sama kayak Ratu,” lirihnya. “Sakit lagi?” mata Naren membulat. Regan langsung menatap adiknya, berusaha tetap tenang. “Kan Daddy memang udah sakit sebelum ke sana. Mungkin karena kecapekan jadi makin parah. Jangan terlalu dipikirin, yang penting kita doain.” “Aamiin,” sahut Naren dan Ratu bersamaan. Regan kembali bertanya, kali ini lebih lembut, “Terus kamu ngomong apa lagi sama Mommy?” “Mommy bilang nanti bakal telepon lagi kalau Daddy udah bisa ditemuin, terus Mommy juga bilang bakal cepat pulang,” jawab Ratu pelan. Regan mengangguk singkat. “Ya udah, kalau gitu aku mau ganti baju dulu.” _____
“Ratu sakit?” Djiwa langsung bangkit dari duduknya, suaranya berubah panik. “Kamu sakit apa, sayang? Jadi kamu gak sekolah hari ini, hm?” Tak ada jawaban. Djiwa menurunkan ponselnya sedikit, lalu melihat Fairish mengalihkan panggilan menjadi panggilan vidio. Tanpa ragu, ia langsung menerimanya. Layar terbuka, menampilkan kamar tempat Ratu berbaring. “Ratu …?” panggil Djiwa pelan. Beberapa detik kemudian, kamera bergerak dan menyorot wajah kecil putrinya. Pucat. Lemah. Dan itu langsung menghantam dada Djiwa. “Mommy … Ratu sakit,” keluh gadis kecil itu, bibirnya mengerucut, suaranya serak. “Sayang …,” suara Djiwa melembut, matanya mulai berkaca. “Sakit apa, Nak?” “Demam ….” lirih Ratu, tangannya menyentuh keningnya sendiri. Air mata Djiwa hampir jatuh. Namun ia tahan sebisa mungkin. “Ya Tuhan ….” bisiknya pelan, lalu kembali tersenyum lembut meski hatinya terasa diremas. “Sayang, maafin Mommy, ya. Mommy harus pergi, ninggalin kamu sama kakak-kakak.” Suaranya mulai bergetar.
Djiwa menatap dokter yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan pada suaminya. Tatapannya kemudian beralih pada Arga, penuh harap sekaligus cemas. “Kapan suami saya akan sadar? Dan ini … apa ini efek setelah operasi?” suaranya pelan, nyaris bergetar. Arga mengangguk singkat, lalu menyampaikan pertanyaan itu pada dokter. Beberapa detik kemudian, ia kembali menoleh pada Djiwa. “Dokter bilang … kondisi tidak sadar ini bukan koma biasa, Bu. Tapi memang sengaja dipertahankan untuk membantu proses pemulihan otak agar lebih stabil.” Djiwa terdiam. Namun dokter itu kembali berbicara, kali ini lebih panjang, bahkan sebelum Arga sempat bertanya lagi. Arga menarik napas pelan. “Dokter juga bilang, resiko komplikasi tetap ada.” Napas Djiwa langsung tercekat. “Apa …?” lirihnya. Arga sempat ragu. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya melanjutkan. “Ada kemungkinan amnesia global. Atau …,” ia berhenti sejenak, “kelumpuhan.” Djiwa refleks menutup mulutnya, tubuhnya menegang. “Tidak mungkin ….” bi
“Sejak kapan suami saya masuk rumah sakit, Pak?” suara Djiwa terdengar tegas, tapi bergetar. “Sudah lama? Dan kenapa bisa sampai di sini?” Ia menatap Arga lurus, tajam. “Apa dia terlalu memaksakan diri? Kerja terus sampai lupa kondisi? Begadang? Jarang makan?” desaknya tanpa jeda. Arga yang duduk di hadapannya hanya menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam, jelas menahan sesuatu. “Maaf, Bu ….” suaranya pelan. “Jangan minta maaf,” potong Djiwa cepat, nadanya merendah tapi menekan. “Jawab saya dengan jujur.” Ada jeda cukup lama. Arga menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya … tidak ada urusan pekerjaan di Jerman, Bu.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Dan langsung membuat Djiwa membeku. “Apa?” suaranya nyaris tak terdengar. Ternyata yang pernah dikatakan oleh sekretaris sang suami nyata adanya. Matanya membesar, napasnya tercekat. “Jadi selama ini … saya dibohongi?” emosinya langsung naik. “Kenapa? Kenapa harus bohong?” Ia bangkit dari duduknya, mena
Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u
“Mbak, seriusan Djiwa sampe pagi ini belum keluar juga?” bisik Fairish pada Inggrit pagi itu di ruang tengah saat semuanya berkumpul. Hanya para lelaki yang akan pergi bekerja hari ini. Radja, Sultan dan juga Kaisar. Inggrit dan Fairish akan mengambil cuti lagi, merasa lelah karena acara kemarin.
“Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai dired
“Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang







