“Selamat sarapan, Non,” sapa Mbok Iyam dengan senyum tulus yang tak pernah berubah. “Terima kasih banyak, Mbok,” balas Djiwa sambil membalas senyum itu. Mbok Iyam mengangguk singkat. Saat hendak mengatakan sesuatu, langkah kaki berat terdengar mendekat ke meja makan. Radja. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam, aura wibawanya langsung memenuhi ruangan. “Saya permisi, Non,” bisik Mbok Iyam sopan, lalu berlalu meninggalkan mereka berdua. Djiwa menatap Radja dengan senyum lembut yang tak juga pudar. “Pagi, sayang,” ucap Radja sambil mencondongkan tubuh, mengecup puncak kepala Djiwa dengan penuh kehati-hatian. “Pagi, Mas.” Radja menarik kursi dan duduk di sebelahnya. “Susu ibu hamilnya sudah diminum?” tanyanya protektif, nyaris refleks. “Udah,” jawab Djiwa pelan. “Bagus.” Radja membalik piringnya, mulai mengambil nasi dan lauk. “Hari ini saya ada rapat. Kemungkinan siang tidak pulang. Kamu tidak masalah, kan?” Djiwa menggeleng kecil. “Nggak ap
Terakhir Diperbarui : 2026-02-11 Baca selengkapnya