“Ratu sakit?” Djiwa langsung bangkit dari duduknya, suaranya berubah panik. “Kamu sakit apa, sayang? Jadi kamu gak sekolah hari ini, hm?” Tak ada jawaban. Djiwa menurunkan ponselnya sedikit, lalu melihat Fairish mengalihkan panggilan menjadi panggilan vidio. Tanpa ragu, ia langsung menerimanya. Layar terbuka, menampilkan kamar tempat Ratu berbaring. “Ratu …?” panggil Djiwa pelan. Beberapa detik kemudian, kamera bergerak dan menyorot wajah kecil putrinya. Pucat. Lemah. Dan itu langsung menghantam dada Djiwa. “Mommy … Ratu sakit,” keluh gadis kecil itu, bibirnya mengerucut, suaranya serak. “Sayang …,” suara Djiwa melembut, matanya mulai berkaca. “Sakit apa, Nak?” “Demam ….” lirih Ratu, tangannya menyentuh keningnya sendiri. Air mata Djiwa hampir jatuh. Namun ia tahan sebisa mungkin. “Ya Tuhan ….” bisiknya pelan, lalu kembali tersenyum lembut meski hatinya terasa diremas. “Sayang, maafin Mommy, ya. Mommy harus pergi, ninggalin kamu sama kakak-kakak.” Suaranya mulai bergetar.
Read more