“Djiwa, sudah … jangan menangis lagi,” bujuk Radja dengan suara lembut, nyaris berbisik, seolah takut suaranya sedikit lebih keras akan merobohkan ketahanan wanita itu. Namun ia tahu, membujuk ibu hamil yang sedang dilanda badai hormon bukan perkara mudah. “Kalau kamu terus seperti ini,” lanjut Radja lirih, telapak tangannya mengusap punggung Djiwa dengan sabar, “Saya tidak bisa membayangkan dampaknya. Ibu hamil tidak boleh terlalu sedih, stres, apalagi marah. Kamu harus tenang, harus bahagia.” Ia menunduk sedikit, memastikan Djiwa menatapnya. “Kamu tahu edukasinya, kan? Demi anak-anak kita. Kalau kamu tidak mau terjadi apa-apa pada mereka, tolong … berhenti menangis, ya.” Bahu Djiwa kembali bergetar. “Djiwa juga mau berhenti, Mas,” suaranya pecah, nyaris tak berbentuk. “Tapi Djiwa gak bisa. Omongan Mbak Inggrit terus muter di kepala.” Ia menggeleng pelan, air mata jatuh membasahi pipinya. “Dia korban, Mas. Dan sumpah orang yang tersakiti, bisa aja dikabulkan Tuhan.” Radja me
Terakhir Diperbarui : 2026-02-08 Baca selengkapnya