“Apa …?” suara Djiwa nyaris tak terdengar. Ponsel itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Tubuh Djiwa membeku, wajahnya memucat drastis, sementara matanya menatap kosong ke depan seakan tak benar-benar melihat apa pun. “Djiwa?” Radja refleks bangkit, jantungnya berdegup keras. “Sayang? Kamu kenapa?” Namun Djiwa tak menjawab. Bibirnya bergetar, napasnya tercekat, lalu perlahan air mata jatuh tanpa suara. Radja segera berlutut di hadapannya, memeluk tubuh istrinya erat-erat. “Hey … lihat saya. Djiwa, dengar saya.” Dengan suara pecah, Djiwa akhirnya bersandar di dada Radja. “Kakek,” isaknya meledak. “Kakek udah gak ada, Mas.” “Apa?” desis Radja pelan, nyaris tak percaya. Djiwa mengangguk kecil sambil terisak. Bahunya bergetar hebat. “Iya, Mas … kakek udah gak ada,” suaranya putus-putus, lalu tangis itu benar-benar pecah.
Read more