“Iya, Om. Adjiva,” ucap Ratu pelan, seolah takut salah. “Nama depannya sama kayak Ibu.” Radja menelan ludahnya. Suaranya keluar lirih, bergetar tanpa ia sadari. “Siapa nama ibu kamu, Nak?” “Adjiva Nadjwa.” Dunia Radja runtuh seketika. Tangannya yang semula bertengger lembut di puncak kepala Ratu perlahan turun, mengepal di samping tubuhnya. Napasnya terasa berat, dadanya seolah diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tatapan gelapnya menelisik wajah gadis kecil di hadapannya, dan di sanalah ia akhirnya melihat dengan jelas. Mata itu. Hidung kecil itu. Lengkungan senyum yang bahkan saat menangis pun masih sama. Semuanya milik Djiwa. “Di mana … Papa kamu?” tanya Radja akhirnya, suaranya berat, ragu, seolah ia berdiri di tepi jurang yang dalam dan gelap. Ratu terdiam. Bibirnya bergetar. “Papa …,” gumamnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca. Radja menahan napas. “Kenapa, Nak?” “Kata Ibu, Papa udah meninggal,” jawab Ratu pelan, nyaris tak terdengar. “Ratu gak punya
더 보기