“Binal, tadi kamu di kelas belajal apa?” tanya Narendra santai pada sepupunya. “Hei,” Binar langsung menegur dengan wajah merengut. “Binar. B-I-N-A-R. Binarr,” ucapnya sambil menekankan tiap huruf, memastikan Narendra bisa memahaminya. “Kan aku belum bisa ngomong ‘R’, Binal,” balas Narendra sambil nyengir usil. Binar menghentakkan kakinya ke lantai, pipinya mengembung. “Nanti aku aduin ke Mama sama Papa,” ancamnya, matanya membulat kesal. “Whooo …,” Narendra mengacungkan jempol, suaranya dibuat mengejek. “Tukang ngadu, whooo ….” “Naren.” Suara itu membuat ejekan Narendra terhenti. Regantara berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi—terlalu dewasa untuk anak seusianya. Narendra melirik sang kakak, alisnya terangkat. “Apa? Aku cuma bercanda.” “Berisik,” kata Regantara singkat. “Kalau Om Sultan dengar, kamu bisa disuntik lagi.” Tubuh Narendra refleks menegang. Suntik. Trauma lama itu masih membekas jelas di in
Last Updated : 2026-02-25 Read more