“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, Wa,” ucap Kaisar. Ia berdiri tegak di ambang pintu, kedua tangannya terselip di saku celana, raut wajahnya serius. Djiwa menelan ludah, dadanya terasa mengencang. “Soal apa, Mas?” Kaisar tidak langsung menjawab. Pandangannya melirik ke dalam penthouse yang sunyi. “Di dalam gak ada siapa-siapa, kan? Kita bisa ngobrol di dalam?” Djiwa menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan dan memberi jalan. Kaisar melangkah masuk, mengikuti Djiwa menuju ruang tengah sebelum akhirnya duduk di sofa. “Aku buatin minum dulu,” ujar Djiwa sopan. “Mas mau minum apa?” “Apa aja.” Djiwa mengangguk, lalu menuju dapur. Kaisar menunggu dalam diam. Ada keraguan di dadanya, permintaan yang akan ia sampaikan jelas tidak ringan. Namun sebagai tuan rumah, ia tidak punya banyak pilihan. Beberapa menit kemudian, Djiwa kembali dengan secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di hadapan Kaisar, lalu duduk di sofa seberang. “Silakan,” ucapnya pelan. Kai
Last Updated : 2026-03-08 Read more