Masuk“Selamat makan,” ucap Djiwa malam itu, setelah seluruh hidangan tersaji di meja makan. Meja yang kini terasa penuh, lengkap dengan kehadiran dua bocah kembar laki-laki.
“Thank you, Mommy,” ujar Narendra ceria, senyumnya mengembang lebar. “Sama-sama, Nak,” balas Djiwa dengan senyum tulus. “Thank you, Mom,” Regantara menyusul, suaranya lebih tenang namun terdengar sungguh-sungguh. “Sama-sama,” jawab Djiwa lembut“Mas Radja? Djiwa?” gumam Fairish lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Djiwa mengangkat wajahnya. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari siapa wanita yang berdiri di depannya. Dadanya mengencang, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludahnya pelan. Radja melangkah maju setengah langkah, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Djiwa. Gesturnya tegas, seolah ingin menegaskan satu hal—wanita itu istrinya. “Kamu nganter Binar?” tanya Radja dengan suara berat dan terkendali. Fairish mengangguk singkat. Tatapannya kembali tertuju pada Djiwa. “Djiwa … sejak kapan?” Belum sempat Djiwa menjawab, sebuah sosok muncul dari belakang Fairish. Kaisar berdiri di sana, kedua tangannya terselip di saku celana, sorot matanya tertuju lurus ke depan. “Djiwa,” ucap Kaisar pelan, “Kamu sudah kembali?” Djiwa mengangguk singkat, memaksakan senyum yang nyaris tak sampai ke matanya. “Iya, Mas.” “Iya, Om!” Narendra tiba-tiba menyela dengan nada ceria. Ia melangkah se
“Mas, di sekolah ada banyak temen-temen, ya?” tanya Ratu polos pada kedua saudara kembarnya. “Iya,” jawab Regantara singkat, seperti biasa. “Banyak banget, dek,” timpal Narendra antusias. “Terus ada taman bermain juga. Ada kantin buat jajan.” Mata Ratu langsung berbinar. “Ada ayunan juga, Mas?” Narendra mengangguk cepat. “Ada. Sama perosotan. Pokoknya banyak, deh.” “Wah …,” Ratu tersenyum lebar. “Ratu gak sabar mau sekolah.” Tatapannya beralih ke Radja yang tengah fokus menyetir, sementara Djiwa duduk di kursi depan di sampingnya. “Besok Ratu sekolah ya, Dad?” Radja melirik ke spion tengah. “Belum tentu, sayang. Kita daftar dulu hari ini. Biasanya belum tentu langsung bisa masuk.” “Oh ….” Ratu sedikit mengkerut, namun Regantara segera menyahut. “Tapi kamu bisa main di taman sama kita,” ucapnya tenang.
“Jadi kamu mau tinggal di mana sekarang?” tanya Kaisar pagi itu pada Fairish, saat mereka sarapan bersama di meja makan. Binar ikut duduk di sana, wajah bocah itu tampak murung. Sejak ayah dan neneknya tak lagi berada di mansion, lalu dua sepupu kembarnya pergi, rumah besar itu terasa jauh lebih sunyi. Fairish menunduk, menatap sarapannya tanpa selera. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepala dan menatap Kaisar. “Aku milih tetap tinggal di sini, Kai,” ucapnya lirih. Tatapannya bergeser ke putrinya. “Kalau kita tinggal berdua aja, dia gak punya temen.” “Setidaknya di mansion masih ada kamu,” lanjutnya pelan. “Masih ada Om kesayangan dia.” Tangannya terulur, mengusap puncak kepala Binar. “Kamu setuju, sayang?” Binar menggeleng kecil. “Binar mau tinggal bareng Regan sama Naren, Ma,” ucapnya lirih. “Di sini sepi.” Fairish menghela napas panjang. Dadanya tera
“Selamat makan,” ucap Djiwa malam itu, setelah seluruh hidangan tersaji di meja makan. Meja yang kini terasa penuh, lengkap dengan kehadiran dua bocah kembar laki-laki. “Thank you, Mommy,” ujar Narendra ceria, senyumnya mengembang lebar. “Sama-sama, Nak,” balas Djiwa dengan senyum tulus. “Thank you, Mom,” Regantara menyusul, suaranya lebih tenang namun terdengar sungguh-sungguh. “Sama-sama,” jawab Djiwa lembut, tangannya terangkat mengusap puncak kepala anak sulungnya itu singkat, seolah masih canggung namun rindu. Di ujung meja, Radja mulai menyantap makan malamnya. Ratu duduk manis di pangkuannya, disuapi dengan sabar oleh sang ayah, sesekali tertawa kecil ketika sendok menyentuh bibirnya. Regantara dan Narendra saling pandang, lalu bersamaan melirik ke arah Radja dan Ratu. Pemandangan itu terasa asing—hangat, tapi asing. “Em … Daddy,”
Djiwa mengulas senyum kaku sambil menatap kedua putra kembarnya. Jantungnya berdegup tak beraturan. Di hadapannya, Regantara dan Narendra membeku di tempat, masing-masing masih memegang koper kecil mereka, seolah kaki mereka tertanam di lantai. Tatapan kedua bocah itu berulang kali mengerjap, memastikan apa yang mereka lihat bukan ilusi semata. Hampir bersamaan, keduanya menoleh ke dinding ruang tengah—ke arah foto pernikahan yang terpasang rapi di sana. Wajah ayah mereka dan seorang perempuan yang kini berdiri tak jauh dari mereka. Wajah itu sama. Tidak salah lagi. “Halo,” sapa Djiwa pelan. Satu tangannya terangkat, melambai kecil, canggung. “Ini Mommy, Nak.” Tak ada jawaban. Tak ada gerak. Senyum Djiwa perlahan memudar. “Kenapa kalian diam?” Radja akhirnya membuka suara, menatap kedua anaknya be
“Daddy, kenapa Nenek sama Om Sultan dibawa ke kantor polisi?” tanya Narendra lirih. Radja yang tengah mondar-mandir mencari barang-barang penting, memasukkannya ke dalam sebuah koper besar, tak langsung menjawab. Pikirannya sedang penuh, satu keputusan besar sudah diambil. Malam ini juga, ia akan meninggalkan mansion itu. Mansion Reinard tak lagi menjadi tempat yang layak untuk anak-anaknya tumbuh. Yang tersisa di sana nanti hanyalah Fairish, Binar, dan Kaisar. Itu pun jika Fairish tak memilih pergi—kembali ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang dulu sempat dibeli Sultan untuk keluarganya. “Daddy mau ke mana?” tanya Regantara, menghampiri sang ayah yang sedang membuka brankas. Tatapannya tajam, penuh selidik. “Mau pergi? Mau pindah?” Radja berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap kedua putranya bergantian. “Kalian juga,” ucapnya akhirnya,







