“Selamat malam, semuanya,” ucap Radja lembut namun tegas. “Tidur yang nyenyak. Besok memang tidak ada sekolah, tapi tetap tidur lebih awal, ya.” “Tapi Daddy, ini baru jam delapan malem,” protes Regan sambil melirik jam dinding. Radja mengangguk santai. “Daddy tahu. Tidak apa-apa.” “Aku belum ngantuk, Dad,” sahut Naren cepat. Ratu justru menguap lebar, matanya setengah terpejam. “Ratu ngantuk. Tadi siang gak tidur, terus di rumah sakit sampai sore.” Radja tersenyum kecil, lalu menggendong putrinya. “Kalau begitu, Daddy antar Ratu ke kamar.” Ratu menyandarkan kepala di bahu ayahnya, lalu bersuara lirih, “Ratu mau tidur sama Daddy dan Mommy.” Langkah Radja terhenti sejenak. Ia menunduk, menatap wajah kecil itu dengan senyum tipis. “Tidak, Nak. Ratu tidur di kamar sendiri, ya. Daddy ada urusan sama Mommy.” “Urusan apa?” tanya Naren penasaran, buru-buru berdiri menghadang. “Kami ikut,” sambung Regan, tak mau kalah. Radja terkekeh pelan. “Daddy dan Mommy tidak ke mana-man
Baca selengkapnya