“Siapa bilang Binar tidak sekolah lagi?” ujar Radja lembut pada putri kecilnya. “Binar masih sekolah. Dia hanya sedang beristirahat sebentar.” “Istirahat kenapa, Dad? Binar sakit?” tanya Naren penasaran, mendongakkan wajahnya menatap sang ayah yang tinggi. Radja mengangguk singkat. “Iya. Tapi sekarang sudah membaik, hanya saja belum bisa banyak beraktivitas,” jawabnya beralasan. Sekilas ia melirik ke arah Djiwa. “Begitu ya, Daddy?” Ratu memastikan, matanya yang polos menatap sang ayah tanpa curiga. “Iya, Sayang.” “Sekarang Binar di mana, Dad?” tanya Regan. “Kami mau jenguk.” Djiwa berdiri tegak, menatap kedua putranya dengan lembut. “Binar sedang di rumah nenek dan kakeknya dari pihak mama, Nak.” “Oh … ayo kita ke sana, Mom!” ajak Naren penuh antusias. Djiwa terkekeh pelan. “Tidak bisa begitu, Sayang. Kita tidak bisa datang tiba-tiba.” “Bisa,” sela Radja mantap. “Sekarang juga kita ke sana.” “Mas?” Djiwa menatap suaminya tak percaya. “Tenang saja,” ucap Radja dengan keyakin
Read more