ANMELDENRadja menerjang masuk dan menarik kerah Kaisar dengan kasar hingga tubuh adiknya terhempas ke lantai. BUGH! Tinju Radja mendarat telak di wajah Kaisar, tepat di rahangnya. Sekali. Dua kali. Kaisar terhuyung, darah mengalir dari sudut bibirnya. Radja kembali mengangkat tangannya, matanya merah penuh amarah. “Berani-beraninya kamu menyentuh istri saya!” Djiwa terisak di atas ranjang, tubuhnya gemetar. Ia segera menarik sisa pakaiannya menutup dada. Namun Kaisar justru tertawa pelan di sela darah yang menetes. “Mas …,” gumamnya serak. “Djiwa istriku, apa salahnya kalau aku sentuh dia. Mau sekarang dia istri kamu atau bukan, tapi di ingatan aku ... Djiwa istriku.” Djiwa menggeleng tegas, air matanya jatuh lebih deras dari sebelumny
“A-apa maksud kamu, Mas?” suara Djiwa bergetar. Ia refleks mendorong Kaisar menjauh dari tubuhnya. Kaisar tersenyum miring, senyum yang tak pernah berarti baik. “Kamu pasti pikir aku mengigau, kan?” Ia menggeleng pelan. “Nggak, Wa. Aku serius.” “Sadar, Mas,” tegas Djiwa, berusaha menguatkan diri meski jantungnya berdetak cepat. “Aku istri sah Mas Radja sekarang. Kami udah punya tiga anak kembar.” Kaisar terkekeh rendah. “Dan kamu pikir rumah tangga gak bisa hancur hanya karena kalian terlihat bahagia dan punya anak?” Tatapan Djiwa menajam. “Kamu bicara apa? Jangan mulai berfikir macam-macam.” “Aku masih Kai yang sama,” balasnya pelan, sorot matanya berubah gelap. “Dan aku tidak bisa menerima perempuan yang dulu menderita bersamaku, sekarang hidup bahagia dengan kakakku sendiri.” Rahang kecil Djiwa mengeras. “Bahkan setelah kecela
Julian terdiam beberapa detik, lalu terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. “Akhiri apa? Kamu datang tanpa kabar, lalu langsung bicara seperti itu?” “Aku serius.” Nada suara Sultan membuat senyum Julian benar-benar hilang. “Kamu pikir aku tidak tahu?” lanjut Sultan, suaranya rendah namun penuh tekanan. “Siapa lagi yang bertindak sejauh selain kamu?” Julian menyipitkan mata. “Maksud kamu apa?” “Fairish pergi, membawa anakku. Dia tahu semuanya.” Rahang Sultan mengeras. “Dan hanya kamu yang bisa membocorkan soal kita.” Julian menghela napas panjang, lalu melipat tangan di dada. “Jadi sekarang kamu datang untuk menuduhku?” “Aku datang untuk mengakhiri hubungan ini. Apa pun bentuknya.” Sunyi menyelimuti salon. Beberapa karyawan saling berpandangan, tak berani ikut campur.
“Kenapa bisa kamu digugat cerai, Tan?” tanya Radja pada adiknya itu. Sultan tak menjawab, tangannya mencengkeram kuat kertas gugatan cerai di tangannya. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu pergi meninggalkan ruang tengah dengan dada yang terasa sesak. Cerai, itu sama saja dia dijauhkan dari putrinya. Usia Binar baru menginjak lima tahun, dan anak yang usianya dibawah dua belas tahun akan menjadi hak asuh ibunya jika mereka resmi bercerai. Radja kemudian menatap ibunya. “Mi?” “Mami juga tidak tahu, Radja,” Sekar menggeleng pelan. “Tapi sepertinya, Fairish tahu sesuatu.” Radja menghela napas panjang. Ketiga bocah yang tak mengerti apa-apa hanya saling pandang satu sama lain. Narendra yang biasanya cerewet dan ingin tahu memilih diam tak bertanya.
“Sudah setengah bulan, Mi. Bisa Mami ceritakan semuanya sekarang?” tanya Kaisar pelan, namun tegas. “Ceritakan apa, Kai?” Sekar mencoba terdengar tenang. “Siapa suaminya Djiwa? Kenapa rumah ini terasa sepi? Apa mereka udah gak tinggal di sini? Mas Radja dan Mbak Inggrit pindah? Mas Sultan dan Fairish juga?” pertanyaan itu keluar beruntun, seolah selama ini tertahan. Sekar menghela napas panjang. “Masih ada waktu setengah bulan lagi, Kai.” “Aku pengen tahu sekarang, Mi.” Kaisar memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut. “Semakin aku gak tahu, semakin sakit rasanya di sini.” Ia menunjuk pelipisnya. “Sudah Mami bilang, jangan dipaksa,” ujar Sekar cepat. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kaisar. “Kita periksa lagi ke dokter, ya?” “Nggak,” tolak Kaisar lirih. “Aku baik-baik aja.” “Yakin?” tanya Sekar
“Kenapa kamu terus memaksa tinggal bersama kami, Grit?” suara Dante terdengar dingin, nyaris tanpa emosi. “Kalau kamu memang butuh tempat, kamu masih punya rumah orang tuamu, kan?” “Aku akan menjualnya,” jawab Inggrit cepat. “Papa udah pindah ke luar negeri. Di sini tinggal aku sendirian.” Dante menghela napas panjang, jelas menahan kesal. “Kalau begitu ikut Papa kamu saja ke sana.” “Aku masih cinta tanah air ini,” bantah Inggrit tegas. “Dan aku gak mau tinggal di sana. Tolonglah, Dante. Aku cuma mau tinggal dengan anakku, satu-satunya yang aku punya.” Dante menoleh tajam. “Apa kamu tidak punya rasa malu? Kalau kamu tinggal dengan Anggita, itu berarti kamu juga tinggal denganku.” “Aku tidak peduli,” balas Inggrit tanpa ragu. “Yang penting aku bersama Anggita.” Hening jatuh di antara mereka. Dante memalingkan wajah, menatap kosong
Radja mengerutkan kening tipis, tatapannya tetap datar tanpa emosi. “Apa maksudmu?” Sultan menghela napas ringan, menoleh sekilas ke arah pintu utama mansion sebelum kembali menatap kakaknya. “Entah kamu tidak sadar atau memang sengaja, tapi cara kamu memperlakukan Djiwa terlalu terlihat. Terlalu
“Ternyata yang licik di rumah ini bukan cuma aku,” gumam Inggrit dalam hati. “Yang punya anak tapi bukan anak kandung suaminya bukan cuma aku.” Wajahnya tetap datar, meski dadanya bergejolak. “Terlepas dari kehamilan Djiwa itu karena permintaan Kaisar atau bukan,” batinnya lagi, “pada intinya, ana
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
Djiwa terdiam. Matanya membulat, tubuhnya menegang seketika meski lemah. “H-hamil?” ulangnya terbata. “Mas … jangan bercanda,” Radja menggeleng pelan, senyum kecil penuh haru mengembang di wajahnya, meski air matanya jatuh lebih dulu. “Bukan bercanda,” ucapnya lirih. “Dokter bilang … usia keham







