“Fairish, ikut Papa ke ruang kerja,” ucap Hanum malam itu, suaranya tegas dan berwibawa. Linda hanya menatap sekilas pada suami dan putrinya, lalu kembali menyuapkan makanan seolah tak ingin ikut campur. Fairish mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu mata sang ayah, dingin, penuh kendali. Tanpa bantahan, ia berdiri dan mengikuti Hanum menuju ruang kerja. Pintu tertutup rapat di belakang mereka. Ruangan itu mendadak terasa seperti ruang sidang. Sunyi. Menekan. Hanum berdiri di balik meja kerjanya, kedua tangan bertumpu di permukaan kayu jati yang mengilap. “Papa sudah membaca seluruh isi gugatan cerai yang kamu ajukan,” ujarnya tenang. “Apa yang kamu tuliskan di sana, benar adanya?” Fairish tersenyum tipis, getir. “Papa mau bukti?” Hanum terdiam. Sorot matanya menajam, bukan marah, melainkan waspada. “Dari mana kamu tahu, Rish?” “Aku cari tahu sendiri,” jawab Fairish, suaranya bergetar namun tegas. “Karena kalau aku gak mencari tahu, aku gak akan pernah sadar
Read more