Share

BAB 367

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-03-25 00:02:29

“Mas, kamu gak ke kantor?” tanya Djiwa pelan, menatap suaminya yang sejak pagi tak beranjak jauh darinya.

Radja tersenyum tipis lalu duduk di tepi ranjang. “Kamu lagi gak dalam kondisi baik. Mana mungkin saya fokus kerja.”

“Berarti tadi keluar ... cuma anter anak-anak ke sekolah?”

Radja mengangguk. “Iya.”

Ia menarik napas panjang, wajahnya sedikit berubah serius. “Binar juga belum kembali. Saya masih belum tahu Fairish membawanya ke mana.”

Djiwa mengernyit pelan. “Mbak Fairish memang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 402

    “Apa? Kamu hamil?” Karin membelalak saat mendengar pengakuan Djiwa. “Serius? Usia kandungannya berapa sekarang?” “Lima minggu,” jawab Djiwa sambil tersenyum kecil, tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. “Oh … masih muda banget,” Karin mengangguk pelan. “Morning sickness udah mulai?” “Udah. Tapi waktu hamil kembar, yang ngalamin malah Daddy-nya kembar, aku nggak.” Karin menyipitkan mata penuh selidik. “Ngomong-ngomong … ini kebobolan atau memang udah direncanakan?” Djiwa menyeringai lebar. “Kebobolan.” Karin langsung tertawa pelan. “Udah aku duga. Anak-anak kamu masih kecil, baru lima tahun. Tiga lagi. Kalau yang ini ternyata kembar lagi, gimana?” Djiwa menghembuskan napas panjang. “Maunya sih satu aja. Cukup. Tapi kalau Tuhan kasih kembar lagi … ya mau gimana? Tetep diterima.” “Itu baru bener,” sahut Karin hangat. “Di luar sana banyak yang masih berjuang dapat garis dua. Kamu termasuk yang dimudahkan. Hamil cepet, bahkan langsung dikasih kembar tiga waktu itu.”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 401

    Sultan melirik Fairish sekilas sebelum kembali menatap jalan. “Adek?” ulangnya pelan. “Iya,” angguk Binar mantap. “Kayak Naren sama Regan dan Ratu. Mereka mau punya adek lagi. Binar juga mau. Supaya di rumah baru gak sepi.” Fairish tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang bergetar di hatinya. “Kalau punya adek, nanti mainannya harus berbagi, lho.” “Binar gak apa-apa,” jawabnya cepat. “Binar mau jadi kakak yang baik.” Sultan tersenyum kecil, tangannya menggenggam setir lebih erat. Sementara itu, Fairish menelan ludahnya pelan. Keinginan Binar tadi terus terngiang di kepalanya. Kalau kali ini ia benar-benar hamil, apakah mereka harus menjalani program IVF lagi seperti dulu? Atau Tuhan akan memberi mereka kesempatan dengan cara yang lebih sederhana? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. Ia melirik Sultan yang sedang fokus mengemudi. Wajah pria itu terlihat tenang, kedua tangannya mantap di atas setir, seolah tak ada beban apa pun yang mengusiknya. Fairish mengalihkan pandang

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 400

    “Aku dan Papa Mama mau pindah ke rumah baru,” ucap Binar siang itu dengan wajah berbinar pada ketiga sepupunya. “Pindah?” Naren langsung mendekat, matanya penuh rasa ingin tahu. “Ke mana? Ke rumah Nenek?” “Bukan,” Binar menggeleng cepat. “Bukan rumah Nenek Sekar, bukan juga rumah Nenek Linda. Rumah baru. Rumah Papa sendiri.” Ratu yang sejak tadi duduk sambil memainkan bonekanya ikut menimpali dengan tak kalah semangat. “Ratu juga mau pindah. Kata Daddy, rumahnya lagi dibangun.” “Oh, ya?” Mata Binar membulat kagum. “Wah, seru banget! Berarti kita sama-sama punya rumah baru. Di rumahku nanti cuma ada aku, Papa, dan Mama. Mereka pasti makin sayang sama aku, soalnya gak ada siapa-siapa lagi.” “Kasihan Nenek Sekar, dong,” gumam Naren lirih. “Nanti Nenek cuma tinggal sama Om Kai?” Regan melirik adiknya sekilas, lalu menghembuskan napas pelan. “Tidak apa-apa. Daddy dan Om Sultan sudah punya keluarga masing-masing. Wajar kalau ingin punya rumah sendiri. Lagipula Om Kai belum menikah dan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 399

    [Mantan suami kamu ngalamin kecelakaan lagi.] Djiwa terpaku menatap layar ponselnya. Pesan singkat dari Karin itu membuat jemarinya membeku di atas selimut. “Mas Kai?” gumamnya lirih, alisnya berkerut. “Dari mana Karin tahu?” Alih-alih langsung menanyakan kondisi Kaisar, Djiwa justru membalas dengan pertanyaan singkat, dari mana Karin mendapatkan kabar tersebut. Namun tak ada jawaban. Pesan yang ia kirim hanya berstatus centang satu abu-abu. Djiwa menghembuskan napas pelan. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, mencoba menenangkan diri. Seharusnya itu bukan lagi urusannya. Kaisar adalah masa lalu, luka yang telah ia kubur dalam-dalam. Baru saja ia memejamkan mata, ponselnya kembali berdering. Ia lantas meraih ponselnya kembali. Nama di layar membuat senyumnya terbit tanpa sadar. Mas Radja. Dengan cepat ia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Mas,” sapanya riang. “Sayang, bagaimana keadaan kamu? Masih mual? Perutmu sudah membaik?” suara Radja te

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 398

    “Mari saya antar, Tuan,” tawar Mang Ujang pagi itu, bersiap membuka pintu mobil untuk mengantarnya ke kantor. Kaisar menggeleng singkat. “Tidak perlu. Saya berangkat sendiri.” “Tapi Nyonya Sekar berpesan agar tidak membiarkan Anda menyetir sendiri, Tuan.” “Saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah satu bulan saya keluar dari rumah sakit,” sahut Kaisar tenang, meski nada suaranya terdengar kaku. “Bahkan saya sudah mulai berkencan dengan beberapa wanita atas permintaan Mami.” Mang Ujang menelan ludahnya susah payah. Ada sesuatu yang terasa dipaksakan dari kalimat itu, tetapi ia tak berani membantah. “Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya permisi.” Kaisar hanya mengangguk pelan sebelum membuka pintu mobil sport hitamnya dan duduk di kursi kemudi. Ini pertama kalinya ia menyetir sendiri sejak kecelakaan beberapa bulan lalu, kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Mesin mobil meraung keras ketika ia menekan pedal gas, meninggalkan halaman mansion Reinard dengan kecepatan yang

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 397

    “Bagaimana makan malammu dengan Stella semalam, Kai?” tanya Sekar lembut pagi itu. Ia duduk berhadapan dengan putra bungsunya di meja sarapan, secangkir teh hangat mengepul di tangannya. Kaisar tetap tenang. Ia mengunyah makanannya sampai habis, menelan dengan perlahan, seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting baginya. “Biasa aja,” jawabnya singkat, tanpa mengangkat pandangan. Sekar menyipitkan mata. “Tidak ada kecocokan?” Kaisar menggeleng pelan. “Dia sedang mengandung anak pria lain.” Sendok di tangan Sekar nyaris terlepas. “Apa?” Matanya membulat sempurna. “Kamu tahu dari mana?” Gerakan tangan Kaisar terhenti di atas piring. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang nyaris tak terbaca. “Tadi malam dia mengaku sendiri, Mi.” Sekar masih terlihat tak percaya. “Dia berani mengakui itu? Setidaknya dia wanita yang jujur.” Kaisar melirik ibunya sekilas, lalu menggeleng pelan. “Dia mengaku karena aku terus mendesaknya.” Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan tenang, bunyin

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 103

    “Gimana keadaan Fairish, Tan?” tanya Sekar dengan nada mendesak. Raut wajahnya jelas menyimpan kecemasan, takut sesuatu terjadi pada calon cucunya. Sultan tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu melepaskan stetoskop dari telinganya, lalu menggantungkannya rapi di leher. Barulah ia menatap ibunya de

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 124

    “Ternyata yang licik di rumah ini bukan cuma aku,” gumam Inggrit dalam hati. “Yang punya anak tapi bukan anak kandung suaminya bukan cuma aku.” Wajahnya tetap datar, meski dadanya bergejolak. “Terlepas dari kehamilan Djiwa itu karena permintaan Kaisar atau bukan,” batinnya lagi, “pada intinya, ana

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 104

    Djiwa terdiam. Matanya membulat, tubuhnya menegang seketika meski lemah. “H-hamil?” ulangnya terbata. “Mas … jangan bercanda,” Radja menggeleng pelan, senyum kecil penuh haru mengembang di wajahnya, meski air matanya jatuh lebih dulu. “Bukan bercanda,” ucapnya lirih. “Dokter bilang … usia keham

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status