“Boleh, Mas.” Bukan Ratu yang menjawab, melainkan Binar. Ratu langsung menoleh dengan tatapan tajam. “Kak! Aku gak mau, ya.” Namun Binar sama sekali tak menggubris protes itu, ia justru senang melihat reaksi sang sepupu. Senyum jahil justru semakin jelas menghiasi wajahnya. “Silakan duduk, Mas. Kebetulan saya mau nyari Om sama Tante dulu.” Ia melirik Ratu sekilas. “Mas temenin sepupu saya sebentar, ya.” Usai berkata begitu, Binar buru-buru beranjak dari kursinya. “Kak Binar!” seru Ratu. Ia refleks ikut berdiri hendak mengejar sepupunya. Namun baru selangkah melangkah, sebuah tangan besar melingkar di pergelangan lengannya. Ratu menoleh cepat. Sankara. “Mas, lepas,” desisnya pelan sambil berusaha menarik tangannya. “Duduk.” Nada suara Sankara rendah, tenang, tetapi mengandung ketegasan yang sulit dibantah. “Saya tidak suka ditinggalkan orang saat sedang mengajaknya bicara.” Ratu mendengus kesal. “Aku juga gak suka dipaksa duduk.” “Kebetulan.” Sankara mengangkat sebelah ali
Terakhir Diperbarui : 2026-07-16 Baca selengkapnya