LOGINSiang itu, Ratu melangkah memasuki lobi perusahaan milik Sankara. Penampilannya tampak anggun dengan balutan pakaian dan aksesori dari berbagai merek ternama. Bukan untuk mencuri perhatian siapa pun, melainkan karena sejak dulu memang seperti itulah gaya berpakaiannya. Beberapa pasang mata sempat mengikuti langkah gadis itu, tetapi Ratu sama sekali tidak menyadarinya. Fokusnya hanya tertuju pada meja resepsionis di depan. “Permisi,” sapanya ramah sambil tersenyum kecil. “Saya ingin bertemu dengan Mas Sankara.” Resepsionis yang mengenal wajah Ratu langsung membalas senyum tersebut. “Selamat siang, Bu Ratu. Pak Sankara sedang berada di ruangannya.” “Beliau sudah berpesan, kalau Ibu datang, kami tidak perlu menghubungi beliau lagi. Ibu dipersilakan langsung menuju ruang kerja Pak Sankara.” Ratu mengangguk pelan. “Oh, begitu. Baik, terima kasih, ya.” “Dengan senang hati, Bu.” Setelah berpamitan singkat, Ratu berbalik meninggalkan meja resepsionis. Langkahnya mengarah ke der
Malam mulai turun, menyisakan semilir angin yang berhembus pelan di taman belakang mansion keluarga Reinard. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan, menerangi dua sosok yang berdiri saling berhadapan. Ratu melipat kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekesalan yang sejak tadi ia tahan. “Mas Naren kenapa, sih?” protesnya akhirnya. Narendra yang berdiri beberapa langkah di depannya mengangkat sebelah alis. “Kenapa bagaimana?” “Kenapa Mas terus-terusan jelekkin Mas Sankara?” Ratu menatap kakaknya lurus. “Di depan Daddy, Mommy, bahkan Mas Regan juga. Emang Mas gak suka banget sama dia?” Narendra menggeleng pelan. “Bukan tidak suka.” “Terus?” Ratu menyipitkan matanya tajam. “Mas hanya sedang berusaha menjaga kamu.” “Menjaga dari apa?” “Dari orang yang mungkin tidak sebaik yang kamu bayangkan.” Jawaban itu justru membuat Ratu menghembuskan napas panjang. “Mas tahu dari mana?” Narendra terdiam. “Mas kenal dia?” nada bicara Ratu terdengar dingin
Sudut bibir Sankara terangkat tipis. Namun senyum itu bukan karena mengejek, melainkan lebih menyerupai senyum seseorang yang memahami kesalahpahaman di hadapannya. “Sepertinya Mas salah paham.” Narendra mengernyit. “Salah paham bagaimana?” tanyanya lugas. “Saya melihat sendiri perempuan itu datang menemui kamu, berbicara cukup lama, lalu pergi sambil menangis.” “Saya tidak membantah itu.” “Lalu?” satu alis Narendra terangkat. Sankara menghembuskan napas pelan. “Mas hanya melihat apa yang terjadi hari ini.” Tatapannya tetap tenang. “Tapi Mas tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Jadi, apa yang Mas simpulkan belum tentu sama dengan kenyataannya.” Narendra terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Akhirnya ia menghela napas pelan, seolah memutuskan untuk tidak memperpanjang persoalan yang bukan urusannya. “Sebenarnya saya datang bukan untuk membahas itu.” Sankara mengangguk kecil. “Saya juga menduga begitu.” “Saya datang ...,” Narendra menatap lurus pr
Sore mulai merambat turun ketika Narendra menghentikan mobilnya tepat di depan gedung perusahaan milik Sankara. Ia bersandar santai pada bodi mobil, kedua tangan terlipat di dada, sementara pandangannya sesekali mengarah ke pintu utama gedung yang mulai dipenuhi para karyawan yang pulang. Sorot matanya turun pada arloji di pergelangan tangan. “Harusnya jam kerja sudah selesai,” gumamnya pelan. “Semoga saja dia belum pulang. Aku hanya ingin bicara sebentar.” Narendra menghembuskan napas panjang. Ia sengaja tidak membuat janji lebih dulu. Menurutnya, pembicaraan seperti ini lebih baik dilakukan secara langsung, tanpa memberi kesempatan lawan bicara menyiapkan jawaban. Beberapa menit berlalu, pintu utama gedung kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam keluar bersama asisten dan sekretarisnya. Langkahnya tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa. Sankara. Narendra refleks meluruskan tubuhnya dan bersiap menghampiri. Namun langkahnya terhenti, seseora
Narendra menatap adiknya beberapa saat tanpa mengalihkan pandangan. Raut wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan yang sulit disembunyikan. “Kamu benar-benar sudah berpacaran dengannya, atau kalian masih dalam tahap saling mengenal?” tanyanya pelan. Ratu yang sedang memainkan sendok di atas piring perlahan mengangkat wajahnya. “Menurut Mas gimana?” balasnya. “Aku udah beberapa kali pergi sama dia, bahkan pernah main ke kantornya. Masa Mas masih nanya begitu?” Narendra mengembuskan napas pelan. “Justru karena itu Mas bertanya.” Tatapannya melembut. “Belum lama ini kamu masih mengeluh kalau dia menyebalkan. Sekarang tiba-tiba kalian berpacaran. Apa yang membuat kamu yakin sampai mau membuka hati untuk pertama kalinya?” Senyum tipis di wajah Ratu memudar. “Orang bisa berubah setelah lebih mengenal seseorang, Mas.” “Mas paham.” Narendra mengangguk kecil. “Tapi Mas tetap ingin tahu alasan kamu. Apa karena dia baik?” “Karena dia tulus,” jawab Ratu tanpa ragu. “D
Pagi itu, ruang keluarga apartemen Inggrit dipenuhi cahaya matahari yang menembus jendela besar. Di sudut ruangan, Anggita tengah mempertahankan posisi high plank, sementara hitungan waktu pada layar ponselnya terus berjalan. Bruk. Beberapa lembar foto jatuh tepat di hadapannya. “Ini yang kamu bilang Sankara dan Ratu tidak punya hubungan apa-apa?” suara Inggrit terdengar datar, tetapi menyimpan nada tajam. Anggita menghentikan latihannya. Ia segera bertumpu pada kedua lutut, lalu meraih salah satu foto itu. Matanya membulat. Satu per satu lembaran itu ia balik. Ada foto Sankara membukakan pintu mobil untuk Ratu. Foto mereka berjalan berdampingan. Foto saat keduanya berada di restoran. Bahkan ada foto Ratu keluar dari gedung kantor Sankara. Jari-jari Anggita tanpa sadar mengerat di tepi foto. “Mama ... memata-matai mereka?” tanyanya lirih. Inggrit menyandarkan tubuh pada sofa sambil menyilangkan kedua kaki. “Awalnya tidak.” “Kalau memang tidak, mana mungkin ada foto sebanyak







