เข้าสู่ระบบPRANGGG!Suara pecahan kaca yang nyaring menggema di seluruh ruangan, memekakkan telinga.Lucas Morales, pria yang biasanya setenang air dan sedingin es, baru saja membanting alat gelas kimia yang sedang dipegangnya ke lantai marmer dengan kekuatan penuh. Cairan ungu pekat di dalamnya tumpah ruah, mendesis ngeri saat menyentuh lantai, meninggalkan asap putih berbau tajam yang menyengat hidung.Aku bahkan tidak sempat berkedip ketika tangan kekar Ayah tiba-tiba menyambar kerah kemejaku.Dengan satu sentakan kasar, dia menyeretku mendekat hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa melihat urat-urat merah yang timbul di matanya yang biasanya datar. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang meledak."Ulangi!" bentaknya, suaranya menggelegar seperti petir. "Lambang apa persisnya yang dilihat istrimu?! Jangan sampai ada satu detail pun yang salah!"Aku menatap mata Ayah tanpa gentar. Aku tahu, ketakutan hanya akan membuatnya semakin murka."Mahkota Hitam,"
“Lebih cepat, Guntur," perintahku dari kursi belakang.Guntur mengangguk tanpa banyak bicara. Dia menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin V12 menderu halus namun bertenaga, membawa kami melesat membelah jalanan hutan pinus menuju mansion utama keluarga Morales di Kota Verdansk.Pikiranku berkecamuk. Antara bayangan Amanda yang mencium Livia tadi pagi, dan ancaman "The Duke" yang membayangi nyawanya. Aku butuh jawaban. Dan jawaban itu hanya ada di ujung perjalanan ini.Mobil kami berhenti tepat di depan pos penjagaan. Herman, kepala keamanan yang biasanya garang, sudah berdiri di sana. Begitu melihat plat nomor mobil yang sama yang mengantarku beberapa waktu lalu, ekspresinya berubah total."Tuan Muda Rey!" serunya.Herman segera memberi aba-aba. Dia membungkukkan badannya 90 derajat, sebuah penghormatan sempurna yang biasanya hanya diberikan pada Kaisar. Di belakangnya, enam penjaga lain yang bersenjata lengkap serentak mengikuti gerakannya. Mereka membungkuk dalam-dalam, tak berani me
Ciuman itu dan senyum manis Amanda pada Livia, masih membekas di benakku. Namun, aku harus menyingkirkan perasaan campur aduk itu sejenak. Ada hal yang jauh lebih mendesak daripada urusan ranjang.Aku menarik kursi, duduk di samping ranjang, dan menatap Amanda dengan serius."Sayang," panggilku pelan, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Livia. "Coba ingat baik-baik. Sebelum kamu merasa aneh dan pusing waktu itu... siapa orang terakhir yang kamu temui? Apa ada orang asing yang menawarimu minum?"Amanda mengerutkan kening, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. Dia tampak berpikir keras."Hmm... ada," jawabnya ragu. "Waktu itu aku ada pertemuan bisnis di lounge hotel. Ada investor asing yang mengaku perwakilan dari konsorsium luar negeri. Namanya... hmm… kalau nggak salah, dia minta dipanggil 'Mr. Duke'.""Ciri-cirinya?" kejar aku."Pria paruh baya. Sangat sopan, charming, pakai setelan jas mahal. Tapi ada satu yang bikin aku merinding, Rey," Amanda menatapku, matanya sedikit melebar
Mobil taktis hitam itu membelah jalanan sepi Lunaris dengan kecepatan setan. Jarum speedometer menunjuk angka yang nyaris menyentuh batas, seirama dengan detak jantungku yang berpacu melawan waktu.Aku tidak mempedulikan lampu merah. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik: Presidential Suite di lantai teratas The Royal Crown.Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berlari keluar dari lift pribadi, langsung menekan kode akses pintu kamar.Cklek.Pintu terbuka. Hawa dingin AC langsung menyambutku, kontras dengan hawa panas sisa kebakaran di klub malam Madam Rosa yang masih menempel di kulitku."Tuan Rey?"Livia bangkit dari sofa dengan wajah cemas. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kusut, sisa pergumulan kami tadi sore. Matanya merah karena kurang tidur."Bagaimana kondisinya?" tanyaku tanpa basa-basi sambil meletakkan kotak pendingin di meja."Amanda masih tidur, Tuan. Tapi..." Livia menggigit bibirnya, menunjuk ke arah ranjang. "Sejak sepuluh menit yang lalu, keningnya berkerin
“Jangan! Jangan biarkan mereka menyentuhku!"Tubuh Madam Rosa meronta-ronta di bawah cengkeraman anak buah Alfonso, seperti ikan yang menggelepar di daratan."Kodenya! Aku kasih kodenya!" teriaknya histeris saat salah satu anak buah Alfonso mulai menarik kakinya kasar. "19-08-45! Di balik lukisan abstrak itu! Cepat suruh mereka mundur!"Aku mengangkat tangan kanan, memberikan isyarat berhenti.Seketika, gerakan anak buah Alfonso terhenti. Namun, mereka tidak mundur. Mereka tetap mengelilingi sofa itu, menatap Rosa dengan tatapan lapar yang dibuat-buat, menjaga tekanan psikologis tetap tinggi.Aku menatap Alfonso dan mengangguk ke arah lukisan besar di dinding."Periksa," perintahku singkat.Alfonso bergerak cepat. Dia menurunkan lukisan itu dengan kasar, membiarkannya jatuh berdebam ke lantai. Di balik dinding itu, tertanam sebuah brankas baja digital. Alfonso menekan kombinasi angka yang diteriakkan Rosa tadi.Bip. Bip. Bip.Klik.Pintu brankas terbuka perlahan.Aku berjalan mendekat
Laras pistol Beretta itu masih menempel erat di dahi Madam Rosa, meninggalkan bekas merah melingkar di kulitnya yang keriput dan tertutup bedak tebal.Namun, di luar dugaan, wanita tua itu tidak gemetar."Kamu pikir masalahnya ada pada obatku, Rey?" tanyanya dengan suara serak yang penuh racun. "Kamu pikir B-25 yang membuat istrimu menjadi liar dan tak terkendali?""Tutup mulutmu," geramku, jariku semakin menekan pelatuk. "Berikan penawarnya, atau kutembak!"Rosa tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan menyakitkan telinga."Oh, betapa naifnya kamu, anak muda," desisnya. "Obatku hanya pembuka kunci. Dia hanya melepaskan rem yang ada di otak manusia. Kalau istrimu menjadi seliar itu... mendesah, meminta lebih, bahkan menginginkan pria lain... itu karena jauh di lubuk hatinya, dia memang menginginkannya."Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan fisik manapun."Bohong!" teriakku."Nggak percaya?" Rosa mencondongkan wajahnya, menantang maut. "Lihat matanya saat dia lagi







