Malam semakin larut, namun kantuk tak juga menghampiri Dewa. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara pikirannya berisik oleh bayangan yang tak ia undang. Wajah Safira muncul berulang kali ,bukan sebagai wanita yang ia cintai dulu, melainkan sebagai sosok asing yang membawa kegelisahan.Ia menghela napas panjang, memejamkan mata, mencoba mengingat wajah Indira. Senyum tenang wanita itu, caranya memandang Dewa tanpa tuntutan, tanpa ambisi. Cinta Indira berbeda, lebih dewasa, lebih jujur. Dan itulah yang ia pilih.“Aku nggak boleh goyah,” gumamnya, seolah menegaskan pada diri sendiri.Namun ingatan memang licik. Ciuman singkat itu, meski tanpa rasa, tetap membuka pintu kenangan lama. Saat Safira masih memeluknya dengan janji-janji manis, sebelum semuanya runtuh. Dewa bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin.“Semua itu sudah lewat,” katanya tegas pada pantulan dirinya.**
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-18 อ่านเพิ่มเติม