Indira menahan napas. Kata peduli dari Bara selalu datang dengan cara yang membuat dadanya tak nyaman, seolah masa lalu yang sudah ia kubur rapi kembali digedor tanpa izin.“Aku nggak butuh kepedulian kamu,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih lirih dari yang ia inginkan.Bara tersenyum tipis, tapi sorot matanya serius. “Kadang orang nggak butuh, tapi tetap dapat. Kayak jaket itu.” Ia menunjuk jaket yang kini menutupi bahu Indira. “Aku lihat kamu dari tadi. Senyum kamu ada, tapi kosong.”Indira memalingkan wajah, menatap langit yang bertabur bintang. “Aku capek, Pak Bara. Itu aja. Jangan mikir macam-macam, apalagi soal calon suamiku," katanya penuh penekanan.“Capek karena kerjaan?” Bara menyandarkan punggung ke tiang ayunan, menjaga jarak. “Atau karena orang yang harusnya paling jaga kamu, malah sering hilang?”Indira menggigit bibir. Kata-kata itu seperti menusuk tepat di tempat yang paling rapuh. Ia teringat pesan-pesan yang tak terbalas, telepon yang sering berakhir tanpa jawaban, da
Last Updated : 2026-01-28 Read more