"Pilih aku, Dira. Pilihlah aku..." Air mata Bara jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Lelaki yang selama ini dikenal keras, dingin, dan tak pernah mau kalah itu kini berdiri di hadapan Indira dengan bahu bergetar. Tangannya mengepal, seolah menahan rasa sakit yang menyesak dadanya.“Aku mohon, Dira…” suaranya pecah. “Pilih aku. Jangan dia.”Indira terdiam. Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, tapi karena ia tahu betul betapa sakitnya berada di posisi Bara. Ia pernah mencintai lelaki itu, bahkan sangat dalam. Bara adalah ayah dari anak-anaknya, lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta, meski menyakitinya. Perlahan Indira menggeleng.“Aku sudah memilih, Pak Bara,” ucapnya lembut, namun tegas. “Mas Dewa.”Seolah dunia runtuh tepat di bawah kaki Bara. Ia tertawa lirih, pahit. “Jadi… semua ini tetap nggak ada artinya ya? Perasaanku, penyesalanku, tangisku hari ini?”“Bukan nggak ada artinya,” Indira mendekat satu langkah. “Tapi datangnya terlambat. Semua yang terjadi di antara kita cum
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya