Indira berdiri tegak di ambang pintu, sorot matanya dingin. Tangannya refleks merangkul bahu Nala dan Nathan yang berdiri di belakangnya, seolah menjadi perisai.“Mau apa kalian ke sini?” ulang Indira, nadanya datar tapi tegas.Bara menelan ludah. Ia tahu, kedatangannya bersama Mayang bukan hal yang mudah diterima. “Aku… aku mau ketemu kamu, Indira. Dan anak-anak,” jawabnya jujur. “Mama juga… ingin ikut.”Mayang akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Pandangannya tak bisa lepas dari wajah Nathan, wajah kecil itu seperti potongan masa lalu yang hidup. Hidung, alis, bahkan sorot mata anak itu, terlalu mirip dengan Bara saat kecil. Dadanya berdesir aneh.“Assalamu’alaikum,” sapa Mayang akhirnya, suaranya dibuat selembut mungkin. “Indira…”Indira hanya mengangguk singkat. Tidak ada balasan hangat. Tidak ada senyum. Tatapannya jelas mengatakan satu hal: ia tidak menyambut Mayang dengan tulus.“Silakan masuk,” ucap Indira akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Anak-anak, masuk dulu.”Nala d
Read more