Bik Rumi hanya bisa menghela napas perlahan, matanya bergerak bergantian dari Bara ke Indira. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga besar ini, ia tahu betul bagaimana keras kepala majikannya itu. Tapi juga tahu bagaimana hancurnya hati Indira selama bertahun-tahun."Bik, aku tunggu ayam sambal ijonya ya," ucap Indira kembali, pura-pura tidak melihat keterkejutan di wajah Bara."Iya, Bu. Bentar lagi," jawab Bik Rumi lalu berbalik ke kompor.Bara masih berdiri di ambang pintu dapur. Tangannya terulang hendak meraih Indira, tapi urung. Ia tahu istrinya belum siap disentuh. Belum siap menerima kehadirannya. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah menatap, menatap dengan penuh sesal."Sayang... aku ngga akan lembur malam ini. Aku —""Sudahlah, Mas. Nggak usah dibahas," potong Indira dingin. "Aku capek. Mau istirahat."Indira beranjak dari kursi dapur. Langkahnya terhuyung sedikit, mungkin karena kelelahan atau efek pingsan tadi. Bara reflex melangkah ingin menopang, tapi l
Read more