Pandangan Indira membeku di satu titik, keningnya berkerut dan pikirannya bertanya-tanya. Kala ia melihat, di sudut restoran itu, Dewa duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya tergerai rapi melewati bahu, senyum lembut menghiasi wajahnya. Yang membuat dada Indira seperti diremas bukan hanya keberadaan wanita itu, melainkan tangan mereka yang saling menggenggam di atas meja, begitu alami, begitu intim. Indira tak berkedip. Ada rasa aneh menjalar dari dadanya ke tenggorokan. Bukan sekadar cemburu, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan. Seolah ada bagian dari hatinya yang tiba-tiba ditarik paksa, tanpa peringatan.Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Bibir Dewa bergerak, wanita itu tersenyum, sesekali mengangguk. Dewa terlihat nyaman. Terlalu nyaman.Bara mengikuti arah pandang Indira. Awalnya ia hanya melihat sekilas, lalu sorot matanya menajam. Sebuah senyum tipis, sinis, menghiasi wajahnya.“Belum apa-apa, yan
Last Updated : 2026-01-13 Read more