Safira tersenyum tipis ketika Dewa akhirnya menerima rantang itu. Bukan senyum lega—melainkan senyum orang yang sudah menghitung langkah jauh sebelum kakinya melangkah.“Terakhir,” kata Dewa dingin. “Setelah ini, jangan datang lagi.”Safira mengangguk patuh, terlalu patuh. Matanya berkaca-kaca, suaranya lirih. “Aku cuma pengin kamu makan dengan benar. Kamu kelihatan capek dan sibuk Dewa." "Memangnya kamu tidak sibuk? Harusnya kamu bukan disini, tapi mengurus anakmu, Safira." "Kamu tahu kan, kalau anakku ada sama Mas Hendri. Dia nggak ngizinin aku ketemu anakku sendiri. Aku kasihan kan?" ucap Safira memelas. Namun, Dewa tak menjawab. Ia membuka tutup rantang, aroma masakan rumahan menyeruak, hangat, menenangkan, terlalu menenangkan. Ia makan tanpa banyak bicara, pikirannya melayang pada Indira. Pada wajah perempuan itu yang selalu hadir di benaknya, bahkan saat ia mencoba melupakannya.Safira duduk di kursi seberang, memperhatikan setiap suapan, setiap tarikan napas. Sesekali ia ber
Last Updated : 2026-02-03 Read more