Indira menatap Safira dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan marah, bukan sedih. Lebih seperti kelelahan yang begitu dalam hingga tak sanggup lagi meluapkan emosi.“Kamu mau apa, Mbak Safira?” suara Indira parau.Safira melangkah masuk, melewati Dewa yang mencoba menghalangi. Seorang suster mencoba mencegahnya, tapi Safira menatapnya tajam.“Ini urusan pribadi.”Suster itu menoleh pada Indira yang mengangguk lemah. “Biarkan."Pintu tertutup kembali. Sekarang di dalam kamar itu ada Indira, Bara, Mayang, Nathan, Nala, Celsie, Dewa, dan Safira. Terlalu banyak orang untuk ruangan sesempit ini, terlalu banyak emosi untuk udara yang mulai terasa berat.Safira berdiri di kaki tempat tidur, menatap Indira langsung. Wanita yang dulu ia panggil kakak, yang pernah ia hormati, yang kini harus ia hadapi dengan segala kebenaran yang membakar.“Indira,” Safira memulai, suaranya bergetar. “Aku tahu aku nggak punya hak di sini. Aku tahu aku yang salah. Tapi aku nggak bisa terus-terusan jadi penj
Last Updated : 2026-02-17 Read more