Kamar pembantu itu sempit, dindingnya tipis, catnya sudah sedikit mengelupas. Bau lembab bercampur wangi sabun cuci dari ember di sudut kamar masih tertinggal. Di sanalah Bara mendorong Indira masuk, menutup pintu rapat, dan untuk kedua kalinya memaksakan hasratnya. Suara tangisan lirih pecah di dini hari itu. Indira meringkuk di sudut ranjang tipisnya, wajahnya basah, bantal sudah lembab oleh air mata. Ia menutup mulut dengan tangan agar tidak membangunkan siapapun, tapi isakannya tetap terdengar. "Lagi-lagi malam itu terjadi," kata Indira dalam hatinya. Bara yang berbaring di ranjang sebelahnya terbangun. Alisnya berkerut, kesal. “Kenapa kamu berisik banget sih?" suaranya berat. “Kamu nangis lagi?” Indira menoleh, matanya sembab. “Tuan… tolong jangan lakukan ini lagi pada saya…” Bara menghela napas kasar, lalu duduk di pinggir ranjang. Ia menatap Indira dengan pandangan campur aduk antara marah dan frustasi. Semalam, Bara ingat apa yang terjadi, karena ia tidak terlalu mabu
Last Updated : 2025-10-04 Read more