LOGINBara menarik pinggang Indira, hingga tubuh mereka merapat. "Aku udah nahan ini 3 bulan loh. Karena aku takut kamu dan debay kenapa-napa. Kalau aku sampai—"Indira memotong ucapan suaminya, seakan tahu kemana arah pembicaraan ini. "Ya udah. Jangan ditahan lagi. Dokter bilang udah aman kan?"Sebelumnya dokter mengatakan kalau kandungan Indira yang masih muda itu rawan keguguran. Jadi, Bara memutuskan berpuasa dulu. Akan tetapi, sekarang dokter sudah bilang aman."Tapi aku takut kamu dan anak kita—""Aku tahu kamu nggak nahan. Aku udah gak papa kok, Mas. Kita pakai gaya yang aman ya?" ucap Indira lembut.Setelah diizinkan, Bara langsung memeluk Indira perlahan dan melumat bibir istrinya yang candu itu. Beberapa saat kemudian, entah kapan. Pakaian Bara kini sudah terlepas sepenuhnya. Sedangkan Indira masih memakai lingerienya, walau sudah acak-acakan. Bara melarang Indira melepaskannya, takut Indira kedinginan."Sa-sayang ...""Kalau aku terlalu keras, bilang ya? Jangan ditahan," ucap Bar
Seminggu setelah bangun dari koma, Bara baru bisa keluar dari rumah sakit. Selama itu, Gia dan Rudi yang mengurus semua pekerjaannya.Indira setia menemani Bara di rumah sakit. Namun, terkadang Bik Rumi dan Radit juga ikut menjaga Bara. Mereka khawatir pada kesehatan Indira dan bayinya.Sekarang suasana rumah Bara kembali hangat. Bara juga bisa menyesuaikan waktunya antara pekerjaan dan keluarga. Sesibuk apapun, ia akan selalu mengabari Indira dan menanyakan kabarnya. Handphone hampir tak lepas dari genggamannya. Bahkan sekarang modenya berubah dari silent menjadi dering.Lelaki ini telah belajar dari kesalahan bahwa komunikasi itu penting. Apalagi untuk orang yang kita cintai.Lantas , bagaimana dengan Bella? Wanita itu kembali masuk jeruji besi, setelah ia terbukti ingin menabrak Indira dan membuat Bara kecelakaan. Ia juga masih penghuni penjara karena kesalahannya yang dulu. Kali ini hukumannya tak main-main. Berlipat dari sebelumnya. Dari hukuman seumur hidup, jadi hukuman mati.P
Nala ikut meletakkan tangannya. "Papa cepet sembuh, ya Pa. Nala janji mau nurut papa."Indira yang melihat itu kembali menangis. Reina memeluknya dari samping. "Dia pasti bangun, Ra. Percaya sama Bara.""Mereka butuh papa mereka," isak Indira. "Aku juga butuh suamiku."Tiga hari berlalu, Bara belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Setiap hari Indira datang ke rumah sakit. Ia membacakan cerita untuk Bara, menyanyikan lagu-lagu favorit mereka saat pacaran dulu, dan terus meminta maaf.Suatu sore, dr. Andika memanggil keluarga Bara. "Kondisi Bapak Bara masih stabil. Tekanan di otaknya sudah mulai berkurang. Tapi kami belum bisa memastikan kapan beliau akan sadar. Prosesnya memang butuh waktu.""Tapi dia akan sadar, kan, Dok?" tanya Indira penuh harap."Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, Bu. Doa dan dukungan dari keluarga sangat membantu. Terus ajak beliau bicara, walau mungkin beliau tidak merespon. Pendengaran adalah indra terakhir yang hilang saat seseorang koma."Ind
Suara sirine ambulans memecah kebisingan jalan raya. Indira masih memeluk tubuh Bara yang tak bergerak, air matanya tak henti membasahi wajah suaminya yang pucat pasi. Darah masih merembes dari kepala Bara, membasahi pakaian putih Indira hingga merah menyala seperti bunga lily yang kini tercecer di aspal."Saya mohon, selamatkan suami saya!" teriak Indira pada tim medis yang tiba dengan tergesa.Para paramedis dengan sigap membaringkan Bara di tandu. Indira ikut naik ke dalam ambulans, tangannya terus menggenggam tangan Bara yang mulai terasa dingin."Mas Bara, kamu jangan ninggalin aku. Jangan..." bisiknya di sela isak tangis. "Aku udah gak marah sama kamu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu denger? Aku masih sayang kamu, Mas."Di dalam ambulans yang melaju kencang, seorang perawat mencoba menstabilkan kondisi Bara. "Bu, mohon tenang. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."Indira mengangguk, tapi air matanya tak kunjung berhenti. Ia mengingat semua kebersamaan mereka. Saat Bar
Setelah usaha dan upaya yang dilakukan Bara untuk kembali membujuk istri dan anak-anaknya, belum juga membuahkan hasil. Ia bahkan sudah menyisihkan banyak waktu untuk berada di rumah. Meskipun waktu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bara sadar, ia salah karena baru menyadari betapa pentingnya waktu bersama keluarga. Terutama bersama istri yang sedang hamil. Sikapnya pada Indira memang melukai wanita itu dan sekarang ia masih mencoba memperbaikinya."Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bara saat melihat istrinya beranjak dari atas ranjang. "Kamar mandi.""Aku antar ya.""Nggak usah Mas.""Nanti kalau kamu kepeleset gimana? Aku antar ya Sayang'?" kata lelaki itu lembut. Ia kembali lembut seperti sebelumnya."Apaan sih? Aku juga biasa sendiri kok kalau gak ada kamu. Gak usah lebay!" Indira menepis tangan Bara yang hendak membantunya. Ia pun kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi , tanpa mempedulikan Bara yang menatapnya sendu."Kapan kamu mau maafin aku, sayang. I miss you ..." lir
Di meja makan, suasana terasa kaku. Indira duduk di samping Nathan dan Nala, sementara Bara duduk di seberang mereka. Seperti biasa, Indira menyuapi Nathan dan Nala bergantian. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Tapi Bara tahu, di balik itu semua, ada jarak yang begitu lebar antara dirinya dan istrinya."Mmm... enak banget, Ma. Sayur beningnya seger!" puji Nala dengan mulut penuh."Makanya dimakan pelan-pelan, Sayang. Nanti kesedak," ujar Indira lembut sambil menyeka sudut bibir Nala."Bu, Nathan habiskan?"Indira mengangguk. "Iya, Nak. Habiskan biar cepet gede.""Aku sih mau berotot badannya kayak Papa!" seru Nathan polos.Indira tersenyum. "Iya, nanti kamu bisa gede kayak Papa."Dari seberang, Bara hanya bisa menatap. Matanya tak lepas dari Indira yang begitu lembut di depan anak-anaknya. Ia rupa-rupa. Rindu saat Indira masih bisa tersenyum padanya seperti itu. Rindu saat Indira masih mau bercanda dengannya. Rindu saat tangan mungil itu masih dengan senang hati digen
Indira terdiam cukup lama. Pandangannya kosong, seolah menelusuri lorong-lorong perasaannya sendiri yang selama ini ia kunci rapat. Nathan dan Nala menunggu dengan napas tertahan, takut dengan jawaban yang akan keluar dari bibir sang mama.Nala lebih dulu memecah keheningan. Gadis kecil itu meraih
"Om mau jemput Mama? Kenapa Om?" tanya Nala dengan wajah polosnya yang menggemaskan itu.Bara terdiam sejenak, sebelum ia menjawab. "Em, pengen aja. Sekalian Om ada urusan sama Mama kalian.""Tapi pasti Mama lagi sama Papih. Mending gak usah dijemput, Om. Mama pasti baik-baik aja, nanti juga pulang
Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya. “Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?” Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Seriu
Tangis Nala pecah seketika. Suaranya kecil, tapi menghantam dada semua orang di dalam mobil. Gadis kecil itu memeluk lututnya, bahunya bergetar hebat. Air mata jatuh satu per satu, lalu semakin deras. Ini pertama kali mamanya membentaknya. Kalau dibentak Nathan, ia sudah biasa. Tapi mamanya? “Jah







