Bara menghela napas frustrasi. Ia merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel. Sebuah nomor asing, tanpa nama. Ia menekan tombol mati."Abaikan," katanya tegas, matanya kembali tertuju pada Indira. "Katakan, Dira. Aku di sini, mendengarkan."Indira tersenyum haru, namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, telepon Mayang berdering. Kemudian telepon Rudi. Lalu telepon Gia. Satu per satu, ponsel di teras itu berdering nyaring, menciptakan orkestra kecemasan yang mengganggu momen sakral tersebut.Rudi mengangkat teleponnya dengan ekspresi heran. "Halo? Iya, ini asistennya Pak Bara... Apa?!" Wajah Rudi berubah pucat pasi dalam sekejap."Ada apa, Rud?" Bara masih berlutut, memegang cincin di tangannya, namun fokusnya mulai terpecah.Rudi menutup telepon, matanya membelalak menatap Bara. "Pak, itu dari Rumah Sakit. Ada... ada kecelakaan."Bara bangkit berdiri, jantungnya berdebar kencang. "Kecelakaan? Siapa?"Rudi menelan ludah susah payah. "Mereka bilang... ada seorang wanita yang tertab
Read more